Ingin Menjadi Dosen [?] ~bagian 2

November 24, 07

Oke deh, kita lanjutin obrolan santai tentang fakta dan mitos mengenai dosen. Perlu diingetin lagi nih bahwa semua yg ditulis di blog ini adalah pendapat pribadi. Tidak terkait ataupun mencerminkan kebijakan dari suatu institusi.

Bagian pertama dari tulisan ini bisa dilihat di sini.

Jadi seperti biasa kita bisa sepakat untuk tidak sepakat.

# Setelah lulus, langsung jadi dosen atau …

Kalo saya dulunya gak langsung jadi dosen. Habis lulus di Mesin ITB, saya kerja dulu di sebuah BUMN di Jakarta selama tiga tahun. Dari pengalaman saya sendiri dan hasil ngobrol dengan beberapa kolega, dapat disarikan bahwa kerja di industri sebelum menjadi dosen memberi beberapa keuntungan:
a. Hand on experience
Yang jelas setelah kita sempat kerja di industri, pandangan kita menjadi lebih terbuka mengenai dunia nyata. Bahwa apa yg ada di text book tidak selalu jalan di dunia nyata. Hal ini disebabkan adanya perbedaan konteks, paradigma, asumsi yang digunakan di textbook dan di dunia nyata. Bukan berarti bahwa ilmu text book tidak berguna di dunia nyata, namun lebih seringnya kita harus mengadaptasi konsep-konsep textbook agar kontekstual.

Selain itu, dengan merasakan sendiri bekerja di dunia industri, dosen akan bisa menyisipkan pengalaman-pengalamannya di saat memberi pelajaran. Contoh-contoh yang ditampilkan saat mengajar menjadi realistis – dan mudaha-mudahan menjadi lebih menarik bagi mahasiswa.

b Network
Dengan pernah merasakan bekerja di industri, jaringan pertemanan / komunikasi kita menjadi luas, terutama di bidang kerja kita. Sebagai contoh, karena saya dulu bekerja di Engineering & Construction company, maka saya jadi punya banyak kenalan di ranah ini.

Network yang luas akan berguna sekali, misalnya: membantu dalam penelitian, tukar informasi tentang pengetahuan terbaru, konsultasi, dsb.

c Open Minded
Terkadang dosen terlalu fokus ke bidangnya, dan tidak mau tahu lagi hal lain di luar bidang keilmuannya. Misal, karena merasa sebagai dosen teknik maka anti dengan segala hal terkait manajemen. Pendekatan seperti ini sangat tidak cocok untuk domain teknik Industri karena enjineer teknik industri dituntut untuk mampu bekerja di berbagai macam SOCIO-TECHNICAL SISTEM. Agar enjineer IE bisa berpikiran luas, maka dosennya harus juga mampu berpikiran luas dan bisa ‘menularkannya’ ke mahasiswanya.

Kesempatan untuk bekerja di dunia industri akan memberikan peluang untuk melihat dunia industri dalam ‘gambar besar’ – suka atau tidak suka. Saat anda bekerja di dunia industri, anda akan terekspose pada tugas-tugas yang menuntut anda untuk bisa bekerja sama dengan orang lain dan melihat masalah secara sistemik / holistik. Trend kerja di industri saat ini adalah mengurangi / menghilangkan silos of expertise. Anda akan membawa attitude ini saat anda menjadi dosen.

d Memperjelas niat
Menjadi dosen, menurut saya, adalah panggilan. Seorang dosen [seharusnya] dituntut untuk banyak berkorban dengan tujuan menjadi pendidik yg baik. Banyak tantangan dan godaan dalam perjalanan untuk menjadi seorang dosen. Gaji yang besar di tempat lain, misalnya.

Karenanya, untuk meyakinkan apakah anda benar-benar ingin (passionate) menjadi dosen, salah satunya adalah dengan ‘mencicipi’ pekerjaan lain – di industri. Jika ternyata setelah anda bekerja di industri sekian lama, dengan gaji yg cukup, fasilitas oke, dan hati kecil anda tetap menginginkan menjadi dosen – berarti dosen adalah panggilan jiwa anda.

Anda tidak akan sedih saat bertemu teman seangkatan anda sudah menjadi manajer di sana, mondar-mandir ke LN, gaji besar, dsb karena menjadi dosen adalah PILIHAN anda. Bukan suatu keterpaksaan.

# Perlukah Sekolah lagi?
Kayaknya untuk yang ini jawabannya udah jelas. Dosen dituntut untuk selalu mengupgrade dirinya agar bisa kompeten. Karena salah satu tugas dosen adalah menjadi peneliti, maka dia harus punya kecakapan untuk bisa menjadi peneliti mandiri. Gelar Ph.D atau Doktor memberikan gambaran bahwa sang penyandang adalah seseorang yg berkompeten untuk melakukan penelitian secara mandiri.

Selain itu dosen seharusnya selalu mengupdate kemampuannya agar tidak kuper. Karenanya dosen harus selalu haus untuk selalu belajar dari manapun – bahkan dari mahasiswanya. Saya jadi inget petuah kakak saya yg udah lama bekerja di Industri “Boed, kalo loe mo jadi dosen; jangan jadi dosen yg kuper. Jangan cuman ajarin mahasiswa kamu ilmu yang udah basi – kasian mereka”. Atau saya juga inget apa yg disampaikan oleh pak Bagyo (Kaprodi TI UGM): “jangan sampai dosen menyampaikan suatu materi kuliah ‘A’ ke mahasiswa HANYA dengan alasan karena dulu materi ‘A’ itu yang diajarkan ke sang dosen waktu dia kuliah”.

Asah kapak… asah kapak.

# Dosen = pinter di akademik
Well, ini adalah syarat perlu tapi bukan syarat cukup. Orang yang pinter di akademik belum tentu cocok jadi dosen, tapi untuk jadi dosen perlu modal itu.
He he .. agak ruwet ya?

Di samping harus jago di bidang akademik [oke deh IP=3,banyak gitu; cum laude juga boleh, dst], menurut saya dosen kok harus jago di bidang soft skill.

Wah apa pula itu soft skills?
Kira-kira sih artinya kemampuan untuk berinteraksi dengan manusia lain. Ya sesama dosen, mahasiswa, kolega di industri, dll. Jadi yg dituntut untuk jago soft-skill tidak hanya mahasiswa lho.

# Dosen = serem
Wah kalo ini saya gak tahu deh. Tapi apa ya masih jamannya dosen itu harus serem? Kalo serem so what gitu lho? Mahasiswa jadi gak berani mengungkapkan pendapat, tak ada diskusi, sepi, ngatuk, boring.

seargant

source: dari sini

Tapi kalo emang sudah gawan bayi / inherent ya mo gimana lagi lah. Harap maklum.

# Dosen = sumber ilmu pengetahuan
Kemunginan besar tidak deh. Dosen juga manusia. Bukan ‘dewa’ ilmu pengetahuan – serba tahu. So semestinya dosen mengakui bahwa sekali-sekali tidak tahu ya gak masalah. Tapi kalo sering-sering ya jangan.

Paradigma baru pembelajaran adalah SCL – student-centered-learning. Kurang lebih artinya adalah bahwa mahasiswa harus diberi kesempatan untuk bisa belajar sesuai gaya belajarnya sendiri. Ada deduktif, ada induktif. Ada yg jago belajar secara abstrak – pinter banget nurunin rumus yg pake integral lipat lima; ada yg pinternya belajar dengan intuisi dan studi kasus; ada pula yang lihainya belajar dengan mempraktekkan. Dosen ya bertindak sebagai fasilitator bukan dewa ilmu pengetahuan.

Intinya, learn smart, play hard. Contohnya ya ini:

Bridge design challenge (c) boed >>

bridge

LeGame ~ Designers’ catalyst (c) boed

LeGame

Lagian, sumber informasi dan pengetahuan sekarang sangat banyak. Perpustakaan, koran, wikipedia [tapi hati-hati kao pakai], friendster, blogs, open courseware-nya MIT ; youtube, dll. Apa ya mungkin dosen menyerap semua info itu trus disampaikan ke mahasiswa? Dosen malah akan jadi bottleneck jika semua info dipaksa melalui single portal: dosen.

# Modal dosen?
Honesty, passion, determination, self motivation

# Indikator keberhasilan dosen?

Apakah itu indikator kesukesan seorang dosen?
- jabatan profesor?
- publikasi ratusan?
- dana penelitian besar?
- grup riset yg solid?
- menjadi world-level expert?

Ya, semua itu bisa jadi indikator. Tapi ada satu hal jgn dilupakan.
Saya kok senang mengambil konsep “transformational leadership”-nya rekan-rekan di manajemen untuk mengukur indikator keberhasilan seorang dosen.

Menurut transformational leadership, seorang pemimpin dianggap sukses jika dia bisa mencetak pemimpin-pemimpin baru yang lebih canggih dari pada dirinya. Dan ternyata IEers, konsep transformational leadership itu mirip banget ama falsafah pengajarannya Ki Hajar Dewantara: Tut Wuri Handayani.

Diadopsi untuk kasus dosen:
Seorang dosen dianggap sukses jika dia bisa mencetak lulusan-lulusan yang lebih baik dari pada sang dosen – meskipun sang lulusan tidak harus jadi dosen.

Saya kadang berangan-angan dan berharap, 15-20 tahun lagi saya akan bisa memetik buah sebagai dosen. Melihat mahasiswa-mahasiswa saya menjadi orang yang berguna [apapun profesi dan perannya], bangga sebagai enjineer, berintegritas tinggi, menjadi pioner bagi perubahan negeri ini. Ujung tombak perbaikan. Saat itulah kami sebagai gurunya bisa berkata: “tak sia-sia lah kami”.

Tugas yang berat bukan??

So, IE-ers,
Bagaimana dengan anda?

41 Responses to “Ingin Menjadi Dosen [?] ~bagian 2”

  1. Yan9n Says:

    saya dulu juga bingung pak… kerja dulu baru jadi dosen atau jadi dosen langsung…
    klopun kerja dulu, saya ndak pengen kerja di perusahaan… pengennya di lipi… karena awalnya cita-cita saya pengen jadi peneliti… (bukan dosen), trus selanjutnya jadi dosen (karena bisa menshare hasil penelitian saya ke mahasiswa…) niatan awalnya begitu…
    tapi ya entahlah kenapa nasib yang kemudian membawa saya menjadi dosen di sini… jadi dosen dulu tanpa sempat kerja di luaran…
    suratan takdir??? atau memang ini jalan saya???
    hmmm wakaranai kedo…

  2. pinandita Says:

    nah pak, itu yang mengelayuti pikiran saya beberapa minggu terakhir ini (selain nyari judul TA yg ga ketemu2, di almari, kolong meja, dll hehehe…piss!!)
    klo push factornya dari eksternal gmn pak?? dalam hal ini keluarga yg suggest bgt saya jd dosen.. (nama pinandita = pandito, org yg berilmu, itu gr2 saking dr sy lahir bpk saya udah pgn saya jd dosen…hehe)
    klo menurut pak budi, (jujur ya pak?? hehe) sbnrnya saya pnya bakat jadi dosen ga pak??

    matur nuwun pak boed:)
    Boncourage, chaiyooo!!

  3. b oe d Says:

    @ mas Yayan:
    Gpp mas, masih ada alternatif lain kalo mau mencicipi dunia kerja. Post-doc. Sekalian nabung. :-)

    @ Dita:
    Lha kalo Dita mo-nya jadi apa? Secara Dita kan udah gede. Jadi di samping ndengerin kata or-tu juga ndengerin kata hati.
    Kalo dari penerawangan saya sih Dita cocok juga jadi Ibu Dosen.

  4. desiree Says:

    Pak Boed,

    saya tertarik sekali dengan ulasan anda, jujur, to the point, inspirit banget..
    saya seolah mendapat jawaban apa yang harus saya lakukan, tetap bekerja di industri seperti saat ini atau menanggapi “panggilan” saya untuk menjadi seorang dosen yang tanpa pamrih

    terima kasih banyak,
    desiree

  5. b oe d Says:

    @ Desiree:
    Terus terang saya sendiri belum / tidak sampai ke level “tanpa pamrih”. Pamrih saya saat mau jadi dosen cukup banyak, di antaranya adalah agar bisa membahagiakan keluarga dan sedikit membantu mendorong anak-anak muda Indonesia agar lebih maju.

    Menjadi dosen terutama di Indonesia buanyak sekali godaan dan tantangannya. Tapi karena sudah menjadi pilihan -bukan keterpaksaan- ya mesti dijalani dengan ikhlas.

    Mohon doanya

  6. Oemar Bakrie Says:

    Good points, salam kenal dari Bandung …

  7. b oe d Says:

    @Oemar Bakrie
    Terima kasih pak Hendra

  8. MHIYA Says:

    SAYA MAU TANYA NIH…………..SAYA PENGEN BANGET JADI DOSEN,,,NAH SAYA HARUS MASUK JURUSAN MATEMATIKA APA PENDIDIKAN MATEMATIKA????KARENA SAYA SANGAT MENYUKAI MATEMATIKA

  9. ybandung Says:

    Sharing yang sangat bagus Mas Boed,

    Seandainya suatu ketika saya menjadi dosen, salah satu faktornya adalah sharing Mas Boed yang sangat tulus ini. Saya doakan Mas Boed dapat mengemban amanah dengan sebaik-baiknya dan penuh keikhlasan.

    Matur nuwun dan salam dari Bandung, Bandung.

  10. b oe d Says:

    # Mas Ndung
    Amin – makasih mas Bandung.
    Saling mendoakan ya.

  11. ybandung Says:

    Sami-sami dan saling mendoakan Mas Boed.

  12. danik Says:

    waah saya jadi bingung….lulus D3 bahasa inggris UGM merasa nanggung karena Sasatra Inggris ekstensi UGM ga ada..
    saya suka dengan bahasa (linguistik)…
    bagaimana ya..untuk menjadi dosen apakah harus kuliah sastra inggris atau pendidikan bahasa, bisakah ya.?
    terimakasih

  13. Y. Budi SUsanto Says:

    Mas Budi yth.,
    Tulisan mas Budi sangat meneguhkan saya. Nama saya Budi Susanto, umur 47 th. Telah bekerja selama 22 th, dan mulai 2007 jadi dosen (jadi baru satu tahun lebih). Saya tidak pernah membayangkan atau bercita2 jadi dosen. Setelah merasakan mengajar (saya mengajar manajemen), saya berani memutuskan inilah JALAN PEDANG saya yg harus saya jalani hingga akhir hayat (meminjam bahasanya Mushasi).
    Dengan mengajar, saya mendapatkan kebahagiaan luar biasa. Saya merasa mendapatkan pemenuhan kebutuhan saya yang paling tinggi dari perspektif Maslow. Saya juga merasa mendapatkan afirmasi atas eksistensi diri, tindakan, keyakinan, dan nilai2 yg selama ini saya geluti.
    Tapi saya sadar resource saya terbatas, sehingga salah satu upaya yg saya lakukan dalam meneguhkan diri adalah dengan menyadari bahwa dengan mengajar, minimal saya turut membantu mahasiswa dalam mengembangkan dirinya, dalam mencari jati dirinya (istilah saya turut menggarami perkembangan diri mahasiswa).
    Terimakasih banyak ya mas, mari saling mendoakan.
    Salam hormat
    Y. Budi Susanto

  14. bandunk's Says:

    mas boeds.. sy 24th lulusan s1 hukum, saya pernah merasakan kerja di perusahaan bumn karena berbagai hal sy resign. kemaren ini sy mencoba pns yang sesuai dengan kemampuan dan akademik sy tp tinggal 1 step lagi sy pun gagal dan benar2 terpuruk karena sy sangat berharap sekali menjadi pns. dalam kesedihan sy mucul tiba2 pikiran untuk menjadi seorang dosen (entah wangsit dari mana??)
    yang mo sy tanyakan step apa yang harus sy lakukan apakah melanjutkan ke s2 dengan jurusan apa? dan setelah itu bagaimana??
    trims mas BOEDS…
    slm sucses u/ mas…

  15. deassy Says:

    Wah aku jadi pingin jadi dosen di Singapur nih. Gaji profesor di Indon di puncak akhir kariernya cuma sekitar 2,5jt ( jika plus tunjangan, totalnya menjadi sekitar 4jt), kaciaaannn dechh loe!!!, bandingkan tuh dengan gaji prof di Singapur. Di US atau Singapore, gaji seorang profesor adalah 18-30 kali lipat lebih dari gaji professor di Indonesia. Sementara, biaya hidup di Indonesia cuma lebih murah 3 kali saja.

    Ada kolega saya yang sudah prof di sini ditawari untuk jadi dosen di univ di Malaysia dengan gaji sekitar 30jt rupiah plus rumah. Ada banyak cerita lain yang serupa. Banyak orang kita yang jenius-jenius yang bekerja di luar negeri karena mereka memang sepantasnya bekerja di sana sesuai dengan tingkat kapasitas intelektualnya dan sesuai juga dengan tingkat gajinya. Perhatikan sosok Nelson Tansu (profesor termuda di Amerika; Lehigh University, USA), Mulyoto Pangestu (penemu teknik penyimpanan sperma termurah di dunia; Monash University, Aussie), Johny Setiawan (penemu planet baru ekstra solar; Max Planck Institut fur Astronomie, Jerman), dan beberapa yang lain.

    Kita jangan terlalu filosofis lah. Kadang-kadang orang kita mendadak menjadi idealis kala membicarakan hal-hal yang berada di luar kemampuannya.

    Batas antara keikhlasan dan keterpaksaan adalah tipis. Beda antara pengabdian dan kewajiban adalah tidak jelas. Tidak ada apresiasi yang memadai bagi dosen atau peneliti di Indonesia yang berprestasi.

    Coba lihat daftar gaji pegawai di PP No. 66 th 2005, bandingkan dengan counterpart kita di dunia lain (lihat EMBO reports vol. 3 no. 11 2002; http://www.nature.com/embor/journal/v3/n11/full/embor029.html )

    Baca link berikut ini sebagai bahan bacaan:
    1.Tulisan Pak Wardiman (mantan Mendiknas) http://perpustakaan.bappenas.go.id/pls/kliping/data_access.show_file_clp?v_filename=F10301/Keahlian%20Ilmuwan%20Indonesia%20Tersia.htm

    2. Tulisan Pak Syafii Maarif (mantan ketua PP Muhamadiyah)
    http://www.maarifinstitute.org/content/view/151/88/lang,indonesian/

  16. zahrotu syitaa Says:

    salam kenal..
    saya baru lulus s1 TI.
    saya punya cita2 ingin menjadi pendidik,jadi dosen..
    tapi saya belum punya pengalaman mengajar..
    apa yg harus saya lakukan ya untuk meyakinkan kalo saya ini mampu??dalam surat lamaran atau pun saat wawancara??
    saya ingin sekali menajdi dosen krna bagi saya ini adalh pekrjaan buat dunia dan akhirat..
    dengan mengajar pahala akan mengalir terus dan pastinya saya bisa dpt pnghasilan dgn bkrja sbg dosen.
    mksh artikelnya..

  17. zahrotu syitaa Says:

    saya berasal dari keluarga pendidik..
    ibu saya guru SD, kk sepupu saya dosen,dan ada juga yg guru TK.

  18. eecho Says:

    pas kuliah dulu gak kepikiran jadi dosen, tapi banyak bergelut dengan dunia entrepreneur. Ketika ada alternatif tuk menjadi dosen ada hambatan serius dalam histori akademis :D, IPK sy gak nyampe 3, dibawah dikit lah. Sayangnya persyaratan itu menjadi persyaratan administrasi dalam setiap penerimaan dosen. Apa emang path yang harus sy jalani harus sebagai entrepreneur…Mo cari S2 juga ternyata mentok ama syarat2 IPK, hehe..

  19. nathaliea Says:

    menjadi dosen/ guru memang gampang asal ada koneksi dan niat dari personal itu sendiri. menurut saya menjadi dosen adalah sebuah pengabdian dalam dunia pendidikan, sering saya melihat bahwa menjadi dosen/ guru merupakan ajang pelarian karena tidak mendapatkan pekerjaan yang di inginkan atu kadang profesi dosen/guru dijadikan un tuk mengeruk uang yang lebih banyak contohnya mahasiswa dipersulit lulus atau mempersulit nilainya agar membayar kepada dosen tersebut
    saya berani mengatakan hal ini karena ini sebuah pengalaman pribadi dan adik saya alami ketika saya menjadi mahasiswa bahkan kini apa yang saya alami dulu kini terulang kepada adik saya yang kini sedang menempuh study di Fak Teknologi Informatika di univ swasta ternama di kota salatiga ditambah lagi dosen yang mengampu di fak tersebut tidak kompeten dan tidak memenuhi syarat tuk menjadi doses yang sesuai dengan UNDANG-UNDANG SIKDIKNAS
    hal tersebut sangat memalukan guru dituntut memiliki ijasah sarjana dan aktaIV dan sertifikasi dan kompetensi sedangkan dosen mana???????????? gak ada gregetnya

  20. habibi Says:

    menjadi pengajar adalah pekerjaan yang insya Allah membawa berkah
    saya sendiri pun sangat bercita-cita menjadi seorang pengajar…
    mohon do’anya amin..

  21. valensi Says:

    tertarik nimbrung.
    ortu saya (alm) dosen. tapi saya nggak tertarik jadi dosen (nggak ada masalah dg ipk). dosen atau bukan, profesionalisme itu penting. menurut saya nggak bener kalao jadi dosen tapi lebih banyak ‘mroyek’ (tidak dilarang tentu saja), lebih banyak giat diluar blajar-mengajar daripada bikin tulisan/penelitian yang dimuat di jurnal ilmiah. setau saya dosen di negara maju lebih banyak dituntut untuk meneliti, presentasi penelitiannya di conferences dst. Tiap akhir kuliah ada ‘eveluasi murid ke dosen’ dan hasil itu diperhatikan benar oleh pihak fakultas. Kalau ada mahasiswa komplain mengenai perlaku dosennya (memperalat mahasiswa, tidak nguasai materi, dst)dan ternyata benar, dosen bisa diganti (=tidak pegang mata kuliah), bahkan konsekuensi bisa ke kondite. ada universitas LN yang mewajibkan dosen baru untuk ikut training ‘cara ngajar’. dosen di Indonesia kayaknya nggak gitu. mungkin karena:
    nggak ada ‘standar mutu’ mengajar(?) sehingga profesi dosen kayaknya bisa dipegang oleh ‘siapa saja’ yang mau (?)
    mungkin karena kultur Indonesia yang cenderung paternalistik (yang lebih senior-dosen- selalu benar, yang junior -mahasiswa- hampir selalu salah melulu, komplain bisa diabaikan).

  22. Diyan Says:

    Salam kenal pak, sblumnya trm ksh utk tulisannya.cukup memberikan referensi bwt saya. Thn ini saya 23th.dan saya sdg mengambil s2 di ui (tempat yg sama saat saya s1 dl).sejak lulus s1,saya memutskn utk lgsg s2,dgn harapan saya bs menjd d0sen diusia muda (25 th).seblmnya,sama sekali saya blm pernah memiliki penglmn mengajar.pengalaman saya bnyk dhbskn dibidang lain di luar bidg ilmu saya.sambil meneruskan s2,saya skrg mengajar di bimbingan bljr dan privat,dgn hrpn bs memberikan pengalaman pd saya ttg dunia pendidikan. Apakah langkah saya ini tepat? Dan apa yg pertama kali yg harus saya lakukan ketika saya lulus s2 nanti utk mewjdkn mimpi saya menjadi dosen? Trm ksh…
    Salam.
    diyan.rakhmah@gmail.com

    • b oe d Says:

      Mb Diyan,

      Saya yakin banyak jalan untuk menjadi dosen.
      Apa yang saya sampaikan di artikel mungkin terlalu bias pengalaman pribadi saya.
      Banyak jalan lain yang memungkinkan, termasuk jalan yg sedang ditempuh mb Diyan.

      Langkah pertama tentu sama dengan mencari kerja di bidang lain: melamar.
      Sila cari info dari kenalan, teman, saudara, eks dosen atau pengumuman resmi di PT terkait dan tinggal ikuti prosedurnya.
      BTW, beberapa PT sudah mulai menerapkan syarat S3 untuk dosen, jadi mb Diyan harus siap-siap untuk ambil S3.

      Hope it helps.

  23. win Says:

    tolong dong bagi yang berpengalaman mengenai lamaran saya minta contoh surat lamaran untuk menjadi dosen.
    kirim ke email sy ya….
    thanks…

  24. Hj. Nurseha Says:

    Cilegon, 1 Desember 2009

    Saya. sebagai Anggota DPRD, yang mash lama unutk menjabat, katakanlah baru, tetapi sy msh meneruskan study diperguruan tinggi dan rencana saya meneruskan sampai S2, dan cita2 saya kalau tdk terpilih menjadi anggota DPRD lagi sy kepingin jadi dosen bagaimana menurut Bapa atau Ibu yang terhormat trmkas. wassalam. Hj. Nurseha

  25. ahmadhanafi Says:

    bener-bener dapat pencerahan dari bapak. Matursuwun.

  26. Rio Says:

    “Tetap maju untuk dunia pendidikan Indonesia”

    mau tanyak nh pak
    saya bingung Mau ambil jurusan s2 apa y pak.
    Saya s1 nya jurusan pendidikan ekonomi.
    Krn saya memiliki cita2 untuk jd dosen?
    Thanx before…

    • b oe d Says:

      Hola Rio,
      Biasanya syarat jadi dosen, S1, S2 & S3 nya seyogyanya masih relevan.
      Kalau S1 dari ekonomi, S2 & S3 nya mestinya nggak jauh-jauh dari itu (Ekonomi, bisnis)

  27. Irfan Harson Says:

    Wah Mantap pak budi. Saya setuju sekali nih pak. Menurut saya bapak sangat sejalan dengan yang bapak tulis. Ngajarnya enak, contoh realistis, open mind dan yang penting niat untuk bikin orang pintar terlihat (bukan nyanjung loh pak).
    Untuk hal berikut ini,
    - jabatan profesor?
    - publikasi ratusan?
    - dana penelitian besar?
    - grup riset yg solid?
    - menjadi world-level expert?
    bisa dijadikan indikator sukses dosen secara individu (Dosen bisa bangga karena dia profesor, punya ratusan publikasi, banyak orang mempercayakan dana penelitian besar kepadanya, grup riset yang mantap dan terkenal dimana2). Tapi bagi yang diajar kadang hal itu tidak penting. Kadang profesor terkesan itung2an dalam memberi ilmu(saya pernah merasa bgitu). Publikasi yang banyak kadang harus beli untuk mendapatkannya. Dana riset yang besar baru bisa ikut dirasakan jika diajak riset. Expert kadang pelit untuk membagi ilmu.
    Untuk jadi pengajar yang baik menurut saya harus mengesampingkan masalah uang (untuk gaya hidup normal menurut saya gaji dosen tidaklah kurang). Banyak teman saya merasa bahwa dosen punya ketertarikan besar mencari uang cenderung menelantarkan kewajiban untuk mengajar, dan saya juga pernah merasakan hal yang sama (sepakat untuk tidak sepakat pak, ini perasaan saya yang pernah menggunakan jasa dosen dalam usaha untuk lebih pintar).

    Untuk SCL, saya rasa harus ada pemaknaan yang jelas tentang masalah ini (harus ada kesepakatan untuk sepakat menurut saya pak). Menurut saya ide awalnya sangat bagus, bahwa mahasiswa harus lebih aktif dalam proses belajar. Namun berdasarkan pengalaman di TI UGM dulu, beberapa pengajar memaknainya berbeda dengan saya. Beberapa pengajar cendrung menyuruh mahasiswa untuk belajar sendiri hal-hal dasar yang seharusnya disampaikan dosen. Ada beberapa dosen yang hanya menyampaikan silabus dan menunjukkan buku acuan kemudian mahasiswa disuruh membaca dan belajar sendiri. Beberapa dosen tanpa merasa berdosa tidak mengajar sesuai dengan jam yang di bebankan lalu berkata ini jaman SCL, mahasiswa harus belajr aktif. Kalau hanya dengan membaca buku saja semua orang bisa pintar, buat apa UGM harus ada. Buat apa ruang kuliah harus ada. Kalo seperti itu semua orang bisa pintar, cukup bangun perpustakaan yang lengkap. Profesi dosen tidak perlu ada, cukup penjaga perpustakaan.
    Saya pernah dapat nilai A untuk matakuliah yang tidak saya mengerti intinya karena selama kuliah kami hanya disuruh menyadur isi sebagian buku dan kemudian presentasi. Dan bapak dosen tersebut menyebutkan inilah SCL.
    Terus terang pak, kadang profesor asing yang kenal hanya dari email lebih antusias untuk berbagi ilmu dibanding beberapa dosen di kampus sendiri. Saya merasakan ini saat mengerjakan skripsi, beberapa teman juga punya pengalaman yang sama.
    Apa yang saya tulis tidaklah bermaksud untuk menjelekkan tempat saya dulu belajar. Saya sangat menghargai para pengajar di TI UGM. Walau sekecil apapun yang saya dapat di TI UGM, itu sangatlah berharga. Dan apa yang saya dapat tidaklah kecil melainkan besar (besar berharga kesimpulannya).
    Kalau ada tulisan saya yang terkesan menjelekkan itu karena saya ingin yang jelek itu hilang dari TI UGM. Saya yakin TI UGM tidak hanya akan lebih baik dimasa depan akan tetapi akan jadi yang terbaik..

    Maaf kalau ada tulisan yang tidak berkenan..

    IEGMU not just better but d best…

    • Irfan Harson Says:

      Ada kesalahan ketik di alinea 3 komentar saya baris 4, tertulis “teman saya merasa bahwa dosen punya ketertarikan ” yang sama maksud “teman saya merasa bahwa dosen yang punya ketertarikan” (kurang kata “yang” maknanya bisa jauh berbeda).

  28. erma Says:

    Dosen adalah cita yang saya temukan dalam perjalanan penuh kebingungan. Harapan untuk menjadi pendidik bagi mahasiswa itu muncul setelah sebagian besar kesempatan saya menjadi mahasiswa di jenjang pendidikan S1 saya lewatkan biasa saja bahkan di bawah rata-rata. Beberapa waktu kemudian menjelang akhir studi, saya baru mengetahui luar biasanya pengaruh kampus (jika optimal) terhadap transformasi masyarakat. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa mahasiswa dengan kapasitas intelektual yang dimilikinya memiliki tanggung jawab besar terhadap masyarakat. Mahasiswa bukan hanya milik kampusnya.

    Saya masih mengerjakan tugas akhir S1. Berbagai macam persyaratan yang ada untuk menjadi dosen sempat membuat saya terbersit untuk melupakan langkah mimpi besar saya yang satu ini. Akan tetapi, saya ingat bahwa Umat Muhammad SAW adalah manusia-manusia optimis. Kegagalan masa lalu adalah realita, namun pilihan untuk mengubahnya selalu ada. Optimalisasi kesempatan dan sumberdaya, selalu menguatkan keyakinan bahwa dengan izin Allah SWT semua BISA !!!
    InsyaAllah. Bismillahi.

    Terimakasih inspirasi dan pengingatnya.

  29. Ricky Says:

    Slam knal pak…
    Trmksh pak
    artikel yg bpk buat sangat membntu menginsprasi saya..Dtengah kbimbangan saya untuk mnjadi guru/dosen…
    Skrg tkad sya sudh bnar2 bulat untk jd dosen..
    Sya bru msuk S1 Fkip b.Ing9 sambl memulai mnjd guru d SD…Mdh2n jlan sya ini di mudhkan oleh allah swt…Amin
    oya trus apa yg hrus sya lkukn untk mnjdi dosen jka tlah lu2s S1 pak…
    Mhon jwabn’a
    trims

    • yuli Says:

      Subhanallah,…

      sangat menginspirasi, sekaligus membuat saya malu pak,.. :( sepertinya saya jauh sekali dari apa yang dituliskan bapak,.. membuat tugas mata kuliah metodologi penelitian untuk proposal thesis saja saya kelabakan, penelitian pun belum pernah,…

      saya mahsiswa umur 23 yahun, sedang S2 teknik industri ITS, S1 di UII jogja. angkatan 2005, jadi habis lulus saya langsung lanjut di ITS, beberapa hari yang lalau saya masukin lamaran ke 19 kampus di surabaya yang ada jurusan TI nya, sampai sekranag masih disuruh bersabar sama ALLAH hehe,..

      terima kasih pak,.. semoga ilmunya selalu berkah,.. ^^

  30. dian Says:

    Om Boed..makasih artikelnya sangat membantu saya yang juga sedang bimbang seperti teman2 y lain..
    Om, mau tanya nih ya.. saya lulusan SI Agronomi dan sekarang sedang menempuh pasca sarjana Manajemen Perkebunan dan masih bekerja sebagai tenaga kontrak di Dinas Pertanian Propinsi Jateng, terus terang saja saya merasa tidak cocok kerja di tempt sekarang dan ingin bekerja menjadi seorang dosen.. maka mohon petunjuknya bgmn langkah2 yang harus saya lalui untuk bisa jadi dosen
    Terimakasih Om Boed…

  31. pradita Says:

    salam kenal bapak..saya lulusas program pasca sarjana,saat ini saya masi brusaha melamar sebagan dosen,sbenarnya itu sdh mnjadi cita2 saya..akan teteapi stelah banyak ngobrol saya diarahkan untuk bekerja disebuah perusahaan trlebih dahulu..saya jg berpikir bahwa bkrja disuatu prsahaaan akan mnambang pngalaman sy.solusi apa pak yg bisa bpk berikan?sy tdk ingin mnjdi dosen yg terllu teoritis.trimakasih

  32. yuli Says:

    pak, minta ijin buat copas, di blog saya,.. terima kasih,.. :)

  33. yuli Says:

    oiya pak, sesuai tulisan bapak yang dosen harus meluaskan wawasan, saya setuju,.. saya pernah mendengar dosen mengatakan…

    “karna saya bukan di bidang ini, jadi saya tidak mendalaminya” hehe,…

    • b oe d Says:

      Mbak Yuli,
      saya juga kadang mengatakan hal yang sama kok.
      Kalo memang belum tahu jawabannya, yasudah bilang nggak tahu :)
      Dosen sekali-kali gak tahu gpp kok :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers

%d bloggers like this: