Membangun Sistem Transportasi: belajar dari Singapura

January 8, 08

Tulisan ini memberikan ilustrasi bagaimana ilmu Industrial Engineering (IE) bisa dan biasa diterapkan di luar ranah klasiknya: manufakturing. Dalam artikel akan ditunjukkan bagaimana dua kompetensi inti IE yakni human factor dan systems thinking telah dipadukan dengan sangat manisnya oleh pembuatan kebijakan di Singapura sedemikian rupa sehingga fakta menunjukkan bahwa sistem transportasi di Singapura termasuk yang terbaik di dunia.

Sebagai catatan, pada tahun 2003 menurut sebuah sumber, modal shares in public transport di Singapura adalah sekitar 63%. Artinya, sekitar 63% penduduk memanfaatkan transportasi umum di Singapura. Bagi anda yg pernah main, shopping, berobat di Singapura, anda akan merasakan betapa nyaman, terjangkau dan andalnya sistem transportasi umum di sana.

Mass Rapid Transport

# belajar dari Singapura

Di balik kenyamanan tersebut, tentu merupakan buah dari sebuah proses. Bukan simsalabim. Ayo kita coba belajar dari merek. Pisau yg akan kita gunakan untuk membedahnya adalah systems thinking dan human factors.

Siap untuk jalan-jalan?

Untuk mengetahui detail teknis operasional dari sistem transportasi di Singapura, sila jenguk di sini untuk sistem transport secara umum dan di sini untuk MRT

Artikel ini lebih menitikberatkan di bagian perencanaan kebijakan pada skala makro.

1. Latar belakang

Singapura adalah negara yg sangat kecil sehingga memiliki densitas penduduk yang cukup tinggi dan merata tersebar di seluruh area. Tanah / space adalah barang langka. Karenanya Singapura mau tidak mau harus mendorong tumbuhnya alat transportasi yg bisa memindahkan orang [dan barang] dari satu titik ke titik lain secara masal.

Kasusnya akan berbeda dengan, misal, Australia. Dengan luas area yang segede Gaban dan penduduk yg relatif sedikit serta tidak merata, kebutuhan akan transortasi umum menjadi tidak terlalu ada, terutama di daerah rural.

2. Human factor: mengubah kebiasaan dan budaya

Salah satu faktor penting yg sudah diidentifikasikan oleh SIN bisa menjadi hambatan utama adalah pengelolaan perubahan (change management). Ssatu point yg sangat krusial tapi sering terabaikan oleh engineers dan policy makers yg belatar belakang teknik.

Faktor manusia /ergonomi menjadi suatu hal yang harus digarap dengan serius saat public transport akan dimajukan. Ergonomi di sini tidak diartikan sebagai physical ergonomy [IE-ers kadang salah mengartikan ergonomy hanya physical ergonomy]. Dalam konteks ini ergonomi yg relevan adalah cognitive ergonomy.

Tantangan pertama yg terkait dengan human factor adalah mengatasi keengganan untuk berubah (resistant to change). Engineers kadang menggunakan konsep ini: “if u build it they will come”. Konsep yg lebih sering salahnya dari pada benarnya. Untungnya IE belajar tentang cognitive ergonomy.
Salah satu teori yg bisa digunakan untuk menjelaskan keenganan berubah adalah dari Galpin yang ternyata mirip-mirip hierarchy of needsnya Abraham Maslow.

galpin.jpg

Menurut Pak Galpin, orang cenderung enggan berubah karena 3 alasan, dibaca di piramida tsb dari bawah ke atas. Tingkat paling bawah adalah alasan yg paling remeh, sementara teratas adalah yg paling susah untuk dihandle.

Kita gunakan kasus patas Djokja sebagai ilustrasi. Menurut pendapat saya, poin inilah yg menjadi tantangan utama dioperasikannya Bus Patas Djokja seperti yg diberitakan di sini. Masalah teknis menurut saya jauh lebih mudah diatasi dibandingkan masalah manusia. Memberitahu, mengajari dan memotivasi khalayak Djokja yg sudah kadung lengket dengan sepeda motornya adalah masalah yg jauh lebih susah dibandingkan mendesain shelter bus, menghitung jumlah feeder yg optimal dan masalah teknis yg lainnya.

Manusia bukan robot yg bisa diformat kemudian diprogram ulang untuk mengubahnya.

-don’t know

Orang tak mau memanfaatkan transportasi umum karena tidak tahu. Tidak tahu kalo bus patas Djokja ada, misalnya. Karena tidak tahu maka orang tak akan memanfaatkannya.

Solusinya tentu sederhana, ya kalo gak tahu –> dikasih tahu. Strategi pemasaran akhirnya bisa digunakan untuk mengedukasi pasar.

- not able

Sebagian orang mungkin sudah tahu informasi tentang patas Djokja tapi tak mau beralih karena tidak mampu. Tiket terlalu mahal, misalnya. Atau jadwal nya tidak pas dengan kebutuhan. Atau, memang jalur bus-nya yg tidak melewati daerah yg diinginkannya.

– not willing

Poin yg ketiga inilah yg paling susah untuk dihandle. Sebagian orang yg lain lagi mungkin sudah tahu akan adanya bus trans Djokja, mampu belinya, tapi tetap tidak mau pakai. Gengsi misalnya. Not willing adalah masalah motivasional yg paling susah dihandle. Rewards & punishment adalah salah satu solusinya.

Nanti kita akan lihat bagaimana SIN memecahkan masalah ini. Bocoran: ternyata mereka menerapkan prinsip-prinsip yg dipelajari di dunia teknik industri.

# Tantangan kedua adalah terkait dengan multi-stakeholders

Kebijakan umum bersifat makro seperti transportasi masal ternyata akan memberikan dampak langsung maupun tidak langsung kepada berbagai pihak. Di project management kita biasanya menyebut pihak-pihak tersebut sebagai: stakeholders.

Untuk kasus SIN, stakeholders yg bisa diidentifikasi antara lain:

  1. Policy makers, dalam hal ini LTA
  2. Government Agencies yang lain
  3. Resident users
  4. Public transportation operators (bus, taxi, MRT)
  5. Parties & politicians
  6. Contractors (local and foreign)
  7. Technology providers (local & foreign)
  8. Other Residents (land owners, business owners)
  9. Environmental groups
  10. Neighboring countries à Indonesia for sands!
  11. Second-hand car importer countries (Indonesia, New Zealand, Libya and Trinidad)
stakeholder

Ternyata buanyak pihak yg harus diurusi ya? Masalah menjadi lebih rumit karena:

a. setiap stakeholders punya vested interest dan prioritas yg berbeda

b. sebagian stakeholder bahkan mungkin tidak tahu apa interestnya

c. prioritas dan interest tersebut bersifat dinamis dan kontekstual

Karenanya, stakeholder analysis dan stakeholder management harus dilaksanakan. Gesekan dan friksi antar stakeholder perlu dikelola. Perlu adanya entitas yg berperan sebagai buffer, mediator untuk mengelola konflik yg timbul. Di dunia teknik industri, hal ini dikenal sebagai systems architecting.

Proses seperti komunikasi, negosiasi, konsultasi dalam proses pengambilan keputusan harus dilakukan. Tools IE seperti MCDA (multi criteria decision analysis) bisa digunakan untuk membantu prosesnya.

project.jpg

next pembahasan kebijakan makro dilihat dari systems thinking

Updated: situs tak resmi namun sangat lengkap tentang Transdjogja dapat dilihat di sini

About these ads

12 Responses to “Membangun Sistem Transportasi: belajar dari Singapura”

  1. Satria Negara (civil engineer) Says:

    nuwun sewu pak boed, urun rembug..

    Salah satu yang sisi positif yang dapat diambil dari Singapura termasuk masalah transportasi adalah good management & good maintenance. Karena tidak akan ada manfaatnya apabila membangun suatu sistem (termasuk transportasi) dengan sangat baik apabila kemudian tidak diringi dengan management dan maintenance yang baik pula.

    Hal tersebut menurut saya adalah salah satu sisi kelemahan dari berbagi sistem dan infrastruktur yang dibangun di Indonesia. Misalnya: banyak sekali bangunan fasilitas umum yang setelah dibangun kemudian dibiarkan saja:contoh sederhana: trotoar, sal drainase, jalan raya & halte bus (sebagian besar fasilitas tsb di berbagai tempat di Indonesia tidak dalam kondisi baik). Disamping itu perusahaan transportasi milik Pemerintah (Garuda Indonesia dan DAMRI) malah sudah tidak dalam kondisi sehat (perusahaan selalu rugi). Bagaimana itu bisa terjadi? Bad management?

    Tidak mudah memang, membangun sebuah sistem yang terintegrasi dengan baik. Namun harus ada yang mau memulai.

    Tetaplah Maju – Indonesia

  2. b oe d Says:

    # Satria Negara (Mas Vega)

    Makasih masukannya mas. Nanti kita lihat di bagian kedua artikel bagaimana Singapura menerapkan konsep sustainable O&M dalam sistem transportasinya .

    Ternyata sistem transportasi umum Singapura adalah salah satu dari sedikit sistem transportasi umum yg profitable.

  3. yusuf nugroho doyoyekti Says:

    assalamualaikum

    Mau ikutan belajar pak:)

    Terkadang keberhasilan dalam sebuah mengelola perubahan adalah adanya kemanfaatan yang instan dan rasional dari fasilitas baru tersebut.Namun hal ini adalah tantangan yg berat bagi para agent of change.

    Seorang teman pernah berkata pada saya,”Seorng penggerak yg baik adalah yg memahami karakteristik masyarakat, jgn sampe menjadi lokomotif yang menarik sebuah gerobak andong, tp jadilah kuda perang sehingga gerobaknya tidak terseret-seret”.

    Bagaimana tanggapan bapak mengenai hal ini? terima kasih

  4. b oe d Says:

    # Yusuf
    Saya melihat bahwa “immediate benefit” memang perlu ditunjukkan dalam setiap perubahan untuk memotivasi orang untuk berubah. Manfaat yg instan sifatnya konkret dan mudah difahami oleh banyak orang [target perubahan itu].

    Namun perlu kita ingat bahwa manfaat instan tersebut harus *sejalan* dengan tujuan jangka menengah [medium-term planning] dan jangka panjang [vision]. Ini bisa jadi satu bahasan menarik terkait dengan perencanaan berjenjang [hierarchical planning].

    Sebagai contoh, dalam konteks anak-anak,
    Untuk mendorong adik kita agar berubah menjadi lebih rajin; manfaat instan seperti ini mungkin perlu disampaikan: “kalau kamu lebih rajin belajar maka kamu akan naik kelas. Ntar kakak kasih kamu hadiah”.

    Plus perlu diingetkan ke adik itu bahwa “sekolah rajin tak hanya untuk mengejar hadiah, tapi agar kamu bisa jadi seseorang yang ingin kamu inginkan dan [visinya] mungkin agar bisa berguna untuk Tuhan, bangsa, dan keluarga”.

    #penggerak dan lokomotif
    Analoginya bagus sekali.
    Poin yang saya tangkap dari analogi itu:
    a. “leader atau penggerak harus menyesuaikan iramanya dengan yg akan digerakkan”.

    Mungkin bisa ditambah beberapa poin yg lain:
    b. “leader harus bisa berpikir jauh ke depan, namun dalam pelaksanaannya harus realistis melihat ke kondisi riil”
    c. “leader tak harus selalu di depan, kadang di tengah, kadang di belakang”. Seperti pendapat Ki Hadjar Dewantoro.


  5. Manajemen transportasi umum di negara jiran itu memang bagus, malah terlalu bagus untuk bisa segera kita contoh.

    Masalahnya, ada nggak di antara pengambil kebijakan transportasi di negara ini yang mau belajar ? Kalau studi banding mereka pasti mau banget.

    salam kenal

    RM
    http://ayomerdeka.wordpress.com/

  6. ybandung Says:

    Saya ingin berkomentar ringan, transportasi di Singapore sungguh memberikan kemudahan bagi pengunjung negeri tersebut (apalagi bagi warga Singapore sendiri, red). Naik kereta, bis, atau taksi super-super gampang .. Harus dicontoh oleh Indonesia.

    Salam,
    bandung

  7. Yacob Says:

    Makasih atas komentar dan kunjungannya Mas Bud. Salam kenal. Tulisannya menarik, sayang agak “makalah”. Hehehe…

  8. b oe d Says:

    # Mas Yacob
    Mungkin ya mungkin tidak. Karena ada segmen ‘1. latar Belakang'; mungkin formatnya terkesan seperti makalah.
    Isinya? disesuaikan karena target utamanya engineers & engineers-to-be.

  9. nurma Says:

    waaah… memang sih infonya bagus tapi terkesan kayak makalah aja, tapi tidak dapat dipungkiri kalau Singapura memang negara yang keren banget
    Indonesia mestinya jg bisa kayak gitu….

  10. Dwi Suprayitno Says:

    Kuncinya regulasi yang jelas dan tegas dan infrastruktur yang memadai. Sebagai contoh bagaimana kita menggerakkan orang jakarta menggunakan busway jika sama2 terjebak macet dan headway-nya yang demikian lama

  11. Citra Says:

    saya ingin bertanya, mengenai sistem transportasi laut negara singapore ,. ada yang bisa membantu .trims


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers

%d bloggers like this: