Empirical studies have been carried out by researchers around the world to see practices of project risk management (PRM). Having examined 7 empirical studies + 2 relevant articles from well respected authors, I have summarized the results.
Despite differences on methodologies, domains, and countries, similar patterns can be seen, including:
1. There is a significant gap between ‘practice’ and ‘theory’ in PRM.
The ‘most advanced’, frequently used technique which was reported in studies is the simplest form of Monte Carlo – which was theoretically developed some 30 years ago.
2. PRM practices is lagging behind those in other domains such as: reliability and safety.
Some interesting questions may then arise:
(a) In addition to those have been highlighted in the paper, what are other possible factors preventing PRM advancement?
(b) Do the conditions stated in the paper reflect practices in Indonesia?
Any opinion? Feel free to leave your message
The summary can be downloaded here
—
Updated: up to today (8 April), this page has been read more than 100 times. No comments or feedbacks for such interesting findings?
Tags: manajemen resiko, project, proyek, resiko, risk management











April 4, 08 at 10:27 am
Your blog definitely need to be linked back to my blog if i wanted to stick on this Project Management business
April 4, 08 at 10:35 am
# Mbak Tyas,
Thanks for your visit. OZ graduate? just like me.
April 5, 08 at 2:09 pm
Mas budi,numpang comment niy..
karena skripsi saya mengenai analisa resiko kuantitatif dengan simulasi monte carlo jd mo ikut nimbrung… karena monte carlo pendekatannya ke statistik banyak sekali judment yg harus dipertimbangkan terutama dalam memilih bentuk distribusi yg tepat untuk disimulasi karena masing-masing punya karakteristik yg berbeda sehingga hasil outputnya jg bervariasi. Saya melihat ada kelemahan dalam metode monte carlo ini, karena kita tidak dapat memastikan bentuk distribusi apa yg tepat untuk kegiatan/akivitas yg akan kita analisa resikonya jika data yang kita punya sangat terbatas. belum lagi ditambah berapa persen level of confidence yg harus kita pilih setelah output dari monte carlo itu keluar,walopun menurut jurnal yg saya baca dengan 90-75 % level of confidence sudah sangat memenuhi. Hasil penelitian saya dengan menggunakan monte carlo, setelah saya validasi hasilnya cukup memuaskan, dengan selisih kurang dari 10%. studi kasus yang saya ambil pada proyek di jakarta. Mungkin yang paling bagus klo analisa kuantitatif dengan monte carlo diintegrasikan dengan analisa kualitatifnya, supaya lebih baik lagi hasil analis resikonya.
Kalau untu
Klo di indonesia mungkin malah lebih banyak yang belum mengaplikasikan mengenai analisa monte carlo terhadap manajemen resiko. saya pernah diskusi dengan kepala biro salah satu BUMN, dia ga tahu apa itu monte carlo dan apa kegunaanya.
Kalau ada pelatihan mengenai analisa resiko mohon infonya ya mas.. coz saya sangat tertarik mengenai pemodelan resiko.
April 5, 08 at 10:29 pm
#Mas Hadi
Terima kasih atas response-nya. Sangat menarik dan senang ternyata PRM juga dikembangkan oleh Mas Hadi.
Kebetulan beberapa mahasiswa S1 Tek Industri UGM yg dulu saya bimbing juga pernah melakukan penelitian PRM dengan Monte Carlo (MC). Ada yg mengambil kasus proyek rekonstruksi di Aceh pasca Tsunami, ada yg proyek transfer teknologi di Batam.
Benar sekali ada kelebihan dan beberapa kekurangan dari MC. Salah satu kesulitan dari pemakaian MC adalah keterbatasan data yg bisa digunakan untuk input model. Ada yg menggunakan data histori (kalo ada); yg lain menggunakan expert judgement. Keduanya tetap menimbulkan kontroversi ~ sampai sekarang.
Pengembangan selanjutnya adalah dengan mengintegrasikan RISK analysis ke dalam input model MC. Secara teoretis sudah banyak dilakukan, salah satu yg pernah saya kembangkan adalah mengintegrasikan model MC dengan risk register. Cara lain bermacam-macam, ada yg menggunakan Bayesian Network, ada NETCOR [sila digoogle]dll.
Aplikasi PRM di Indonesia sepertinya masih kurang. Saat saya dulu bekerja di EPC, dari pengalaman, PRM masih jarang dipakai, sifatnya ad-hoc tergantung pada project manager dan client-nya. Di Australia, sepertinya sudah lebih maju perkembangannya. Saat saya di sana, PRM sudah cukup dikenal dan digunakan.
Saat ini saya sedang menyiapkan paper review yg cukup komprehensif mengenai perkembangan konsep PRM, mulai dari PERT, Monte Carlo, Systems Dynamics, Bayesian Network dan sejenisnya. Mudah-mudahan bisa segera dipublikasikan di sebuah jurnal internasional.
Di NUS sini sudah ada beberapa kali training Project Risk management. Jika ada info lagi Insha Allah saya kabarkan.