<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Sepakat untuk tidak sepakat</title>
	<atom:link href="http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/</link>
	<description>Beyond Your thinking</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Nov 2009 03:09:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: b oe d</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-907</link>
		<dc:creator>b oe d</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 06:23:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-907</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt; rasionalisasi dari realita yang skala gambarnya berbeda menjadi sama itu bagaimana &lt;/blockquote&gt;

Sila gunakan penggaris, cek masing-masing tinggi gajah. Samakah atau beda ? :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p> rasionalisasi dari realita yang skala gambarnya berbeda menjadi sama itu bagaimana </p></blockquote>
<p>Sila gunakan penggaris, cek masing-masing tinggi gajah. Samakah atau beda ? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Wagun</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-905</link>
		<dc:creator>Wagun</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Jan 2009 02:58:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-905</guid>
		<description>Maaf Pak Boed, tentang teka-teki gajah itu, kalau fakta ukurannya memang sama, mohon bapak jelaskan, rasionalisasi dari realita yang skala gambarnya berbeda menjadi sama itu bagaimana. Kalau tidak bapak jelaskan, itu bikin kebingungan saya sebesar gajah, bahkan lebih. Yang paling dikhawatirkan, ada &#039;kegajahan&#039; kekeliruan dalam mengelola fakta (kalau gambar itu dianggap fakta).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf Pak Boed, tentang teka-teki gajah itu, kalau fakta ukurannya memang sama, mohon bapak jelaskan, rasionalisasi dari realita yang skala gambarnya berbeda menjadi sama itu bagaimana. Kalau tidak bapak jelaskan, itu bikin kebingungan saya sebesar gajah, bahkan lebih. Yang paling dikhawatirkan, ada &#8216;kegajahan&#8217; kekeliruan dalam mengelola fakta (kalau gambar itu dianggap fakta).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: richard™</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-450</link>
		<dc:creator>richard™</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 02:26:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-450</guid>
		<description>saya sudah ukur gajahnya pak. kesimpulannya, saya tidak sepakat dengan bapak. karna menurut saya, ukuran yang dapat dipastikan sama dari ketiga gajah itu adalah ukuran jalanannya para gajah :)

salam gajah pak ;)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya sudah ukur gajahnya pak. kesimpulannya, saya tidak sepakat dengan bapak. karna menurut saya, ukuran yang dapat dipastikan sama dari ketiga gajah itu adalah ukuran jalanannya para gajah <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>salam gajah pak <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dhimas L N ---- (^-^)v</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-387</link>
		<dc:creator>Dhimas L N ---- (^-^)v</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 11:17:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-387</guid>
		<description>masalah persepsi emang bakalan berbeda untuk setiap orang. Pengaruh pengalaman yg unik merupakan salah satu faktor yg membuat persepsi tiap orang berbeda. bener ga ya???? lieur</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>masalah persepsi emang bakalan berbeda untuk setiap orang. Pengaruh pengalaman yg unik merupakan salah satu faktor yg membuat persepsi tiap orang berbeda. bener ga ya???? lieur</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dhee</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-381</link>
		<dc:creator>dhee</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 07:32:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-381</guid>
		<description>dilihat dari bentuk, maaf, paha nya saya punya persepsi yang bercelana sport hitam itu perempuan..
dikarenakan kalau bukan muhrim ga boleh pegangan tangan, jadi berhusnudzon saja kalau itu suami yang menjemput istrinya habis senam..
hihihihihihi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dilihat dari bentuk, maaf, paha nya saya punya persepsi yang bercelana sport hitam itu perempuan..<br />
dikarenakan kalau bukan muhrim ga boleh pegangan tangan, jadi berhusnudzon saja kalau itu suami yang menjemput istrinya habis senam..<br />
hihihihihihi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dhee</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-380</link>
		<dc:creator>dhee</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 07:30:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-380</guid>
		<description>****
Karena kita menyadari bahwa untuk fakta yg sama pun, orang bisa menginterpretasikannya berbeda-beda. 
****

saya dulu pernah baca satu quote:
sapi dan ular sama2 minum air tapi sapi menghasilkan susu, ular menghasilkan bisa, yang satu bermanfaat, yang satu jadi racun..

jadi...sepakat lah saya sama bapak...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>****<br />
Karena kita menyadari bahwa untuk fakta yg sama pun, orang bisa menginterpretasikannya berbeda-beda.<br />
****</p>
<p>saya dulu pernah baca satu quote:<br />
sapi dan ular sama2 minum air tapi sapi menghasilkan susu, ular menghasilkan bisa, yang satu bermanfaat, yang satu jadi racun..</p>
<p>jadi&#8230;sepakat lah saya sama bapak&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dhee</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-379</link>
		<dc:creator>dhee</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 07:21:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-379</guid>
		<description>***
nggak perlu lah demonstratif mondar-mandir bawa bendera partai segede gaban
***
waaaaa...nonton gaban juga, Pak..
kekekekekek</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>***<br />
nggak perlu lah demonstratif mondar-mandir bawa bendera partai segede gaban<br />
***<br />
waaaaa&#8230;nonton gaban juga, Pak..<br />
kekekekekek</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: b oe d</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-369</link>
		<dc:creator>b oe d</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 14:22:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-369</guid>
		<description>#Twejo
Di kejadian itu, tidak ada fakta yg bertentangan. Yg bertentangan adalah persepsi orang yg mengolah fakta itu. Bahkan satu orang yg sama, dalam waktu yg berbeda bisa mempersepsikan fakta yg sama dengan cara yg berbeda.

Dengan asumsi bahwa saya sudah belajar dari pengalaman sebelumnya, maka kalau saya mendengar sirine serupa lagi saya akan berpikiran netral saja, gak suuzan [buruk sangka].
:)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#Twejo<br />
Di kejadian itu, tidak ada fakta yg bertentangan. Yg bertentangan adalah persepsi orang yg mengolah fakta itu. Bahkan satu orang yg sama, dalam waktu yg berbeda bisa mempersepsikan fakta yg sama dengan cara yg berbeda.</p>
<p>Dengan asumsi bahwa saya sudah belajar dari pengalaman sebelumnya, maka kalau saya mendengar sirine serupa lagi saya akan berpikiran netral saja, gak suuzan [buruk sangka].<br />
 <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: twejo</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-366</link>
		<dc:creator>twejo</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 08:14:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-366</guid>
		<description>Tanya pak..(sambil angkat tangan)
Kalau misalnya ada dua fakta yang berlainan seperti kejadian yang bapak alami saat mendengar sirine, maka persepsi mana yang mungkin akan kita gunakan dalam melakukan respon?
Atau..
Kalau bapak mendengar sirine lagi dijalan maka respon yang mana yang akan muncul?
Terima kasih pak..=]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tanya pak..(sambil angkat tangan)<br />
Kalau misalnya ada dua fakta yang berlainan seperti kejadian yang bapak alami saat mendengar sirine, maka persepsi mana yang mungkin akan kita gunakan dalam melakukan respon?<br />
Atau..<br />
Kalau bapak mendengar sirine lagi dijalan maka respon yang mana yang akan muncul?<br />
Terima kasih pak..=]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sinergi &#171; Systems Thinking</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-365</link>
		<dc:creator>Sinergi &#171; Systems Thinking</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 17:02:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-365</guid>
		<description>[...] Sepakat untuk tidak&#160;sepakat  [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Sepakat untuk tidak&nbsp;sepakat  [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: b oe d</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-364</link>
		<dc:creator>b oe d</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 08:12:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-364</guid>
		<description># Pak Gaffar
Iya pak, emang fotonya sengaja dipilih yg seperti itu :)
Biar bisa didiskusikan. Pendapat Pak Gaffar sangat menarik terkait dengan cukup atau tidaknya informasi dan ketidaksepakatan.

Btw,
Informasi yg lebih lengkap juga belum menjamin kesepakatan bisa tercapai. &lt;em&gt;How enough is enough&lt;/em&gt;? Terlalu banyak informasi kita juga malah &lt;em&gt;overwhelmed&lt;/em&gt;. Dalam konsep knowledge management, &lt;strong&gt;knowledge &lt;/strong&gt; akan bisa tergelincir menjadi &lt;strong&gt;informasi &lt;/strong&gt;dan seterusnya tergelincir menjadi &lt;strong&gt;data &lt;/strong&gt; jika jumlahnya terlalu banyak dan tidak terkelola dengan baik. 

Bahkan kalaupun informasinya pas - cukup, tak lebih tak kurang; ada satu masalah lagi dengan persepsi manusia - biasa disebut &lt;em&gt;selective perceptions bias&lt;/em&gt;: manusia cenderung melihat sesuatu sesuai dengan yg ingin dilihatnya. Info yg tersedia namun tak disukai akan diabaikan. Contoh artikelnya &lt;a href=&quot;http://http://www.shiftselling.com/2008/04/29/trigger-events-and-selective-perception/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt;.

BTW lagi,
kok bisa yakin kalo gambar di foto itu fakta?
Mungkin saja lho fotonya itu dimanipulasi dengan potosop, [harus dilihat metadata-nya ini [&lt;strong&gt;tm] &lt;/strong&gt;:)

Manusia memang syusyah untuk dianalisis; dua lusinan bias yg lain bisa dilihat &lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_cognitive_biases&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt;:)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p># Pak Gaffar<br />
Iya pak, emang fotonya sengaja dipilih yg seperti itu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Biar bisa didiskusikan. Pendapat Pak Gaffar sangat menarik terkait dengan cukup atau tidaknya informasi dan ketidaksepakatan.</p>
<p>Btw,<br />
Informasi yg lebih lengkap juga belum menjamin kesepakatan bisa tercapai. <em>How enough is enough</em>? Terlalu banyak informasi kita juga malah <em>overwhelmed</em>. Dalam konsep knowledge management, <strong>knowledge </strong> akan bisa tergelincir menjadi <strong>informasi </strong>dan seterusnya tergelincir menjadi <strong>data </strong> jika jumlahnya terlalu banyak dan tidak terkelola dengan baik. </p>
<p>Bahkan kalaupun informasinya pas &#8211; cukup, tak lebih tak kurang; ada satu masalah lagi dengan persepsi manusia &#8211; biasa disebut <em>selective perceptions bias</em>: manusia cenderung melihat sesuatu sesuai dengan yg ingin dilihatnya. Info yg tersedia namun tak disukai akan diabaikan. Contoh artikelnya <a href="http://http://www.shiftselling.com/2008/04/29/trigger-events-and-selective-perception/" rel="nofollow">di sini</a>.</p>
<p>BTW lagi,<br />
kok bisa yakin kalo gambar di foto itu fakta?<br />
Mungkin saja lho fotonya itu dimanipulasi dengan potosop, [harus dilihat metadata-nya ini [<strong>tm] </strong> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Manusia memang syusyah untuk dianalisis; dua lusinan bias yg lain bisa dilihat <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_cognitive_biases" rel="nofollow">di sini</a> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Gaffar</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-363</link>
		<dc:creator>Gaffar</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 01:59:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-363</guid>
		<description>Pak Boed, gambar terakhir itu sulit saya persepsikan, sebab datanya tidak lengkap. Yg saya lihat adalah dua orang (entah laki entah perempuan) jalan bergandengan (mungkin di pedestrian walk, mungkin pula nyebernag jalan). Itu faktanya. Fakta lain, satu berkulit putih, satu berkulit gelap (lihat kulit tangannya). Lebih dari itu kita tidak tahu.

Fakta yang terbatas ini menjadikan kita terdorong bertidak-sepakat. Lain halnya kalau faktanya lengkap, kita jadi lebih mudah bersepakat. Mungkin perbedaan pendapat yang berujung kekerasan sebenarnya berpangkal pada keterbatasan pengetahuan pula. Bisakah kita persepsikan begitu?

Anyway, tulisannya sangat inspiratif...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Boed, gambar terakhir itu sulit saya persepsikan, sebab datanya tidak lengkap. Yg saya lihat adalah dua orang (entah laki entah perempuan) jalan bergandengan (mungkin di pedestrian walk, mungkin pula nyebernag jalan). Itu faktanya. Fakta lain, satu berkulit putih, satu berkulit gelap (lihat kulit tangannya). Lebih dari itu kita tidak tahu.</p>
<p>Fakta yang terbatas ini menjadikan kita terdorong bertidak-sepakat. Lain halnya kalau faktanya lengkap, kita jadi lebih mudah bersepakat. Mungkin perbedaan pendapat yang berujung kekerasan sebenarnya berpangkal pada keterbatasan pengetahuan pula. Bisakah kita persepsikan begitu?</p>
<p>Anyway, tulisannya sangat inspiratif&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: b oe d</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-362</link>
		<dc:creator>b oe d</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 15:43:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-362</guid>
		<description># Dihar
Halo halo ada yg bisa jawab pertanyaan Dihar?

Saya jadi inget cerita di salah satu novel Umar Kayam. 
Saat bulan Ramadhan, seseorang yg agamanya Islam ditanya karena makan di siang hari, kenapa gak puasa?
Jawabnya: &quot;oiya, saya itu puasanya sudah level tinggi - adanya di hati. Jadi biar makan bistik satu piring, minum es kelapa muda satu gelas, tapi tidak terasa kok. Karena hati saya yg puasa&quot;

Gitu kira-kira :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p># Dihar<br />
Halo halo ada yg bisa jawab pertanyaan Dihar?</p>
<p>Saya jadi inget cerita di salah satu novel Umar Kayam.<br />
Saat bulan Ramadhan, seseorang yg agamanya Islam ditanya karena makan di siang hari, kenapa gak puasa?<br />
Jawabnya: &#8220;oiya, saya itu puasanya sudah level tinggi &#8211; adanya di hati. Jadi biar makan bistik satu piring, minum es kelapa muda satu gelas, tapi tidak terasa kok. Karena hati saya yg puasa&#8221;</p>
<p>Gitu kira-kira <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dihar</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-361</link>
		<dc:creator>dihar</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 15:34:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-361</guid>
		<description>Kalo saya Pak yg gambar terakhir itu persepsinya negatif. kecuali kalo itu muhrimnya. Alasan lain tidak diterima kalo saya menurut ajaran agama saya. Jadi jelas.

Sekalian mau nanya pak, berhubungan dengan integritas.
Kalo misalnya kasus gambar ke-3 itu yg seharusnya tidak boleh terjadi kemudian mereka beralasan: yg penting hati kami bersih. Biar gandeng-gandengan, di hati kami gak ada apa-apa kok.

Gimana ya Pak Boed?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo saya Pak yg gambar terakhir itu persepsinya negatif. kecuali kalo itu muhrimnya. Alasan lain tidak diterima kalo saya menurut ajaran agama saya. Jadi jelas.</p>
<p>Sekalian mau nanya pak, berhubungan dengan integritas.<br />
Kalo misalnya kasus gambar ke-3 itu yg seharusnya tidak boleh terjadi kemudian mereka beralasan: yg penting hati kami bersih. Biar gandeng-gandengan, di hati kami gak ada apa-apa kok.</p>
<p>Gimana ya Pak Boed?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: b oe d</title>
		<link>http://budihartono.wordpress.com/2008/06/14/sepakat/#comment-359</link>
		<dc:creator>b oe d</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 10:06:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://budihartono.wordpress.com/?p=63#comment-359</guid>
		<description># dadank

&lt;blockquote&gt;emm, berarti kata kunci untuk ‘membentuk respon’ adalah ‘membentuk persepsi’.&lt;/blockquote&gt;

To some extent - iya.
Makanya ada ilmu psikologi masa, ilmu pemasaran, propaganda, kemampuan retorika dan sejenisnya. Itu semua terkait dengan usaha pembentukan persepsi.

Cuman perlu disadari bahwa manusia &lt;strong&gt;bukan&lt;/strong&gt; program komputer yg bisa diatur dengan
IF &lt;em&gt;persepsi A&lt;/em&gt; then &lt;em&gt;respons A&#039;&lt;/em&gt;
IF &lt;em&gt;persepsi B&lt;/em&gt; then &lt;em&gt;respons B&#039;&lt;/em&gt;
dst seperti dalam konsep &lt;em&gt;expert system&lt;/em&gt;.
Manusia terlalu kompleks dan dalam banyak kasus tidak &lt;em&gt;reliable&lt;/em&gt;. 
Pernah gak anda suatu hari tersenyum pada si X ditanggapi senyum [r&lt;em&gt;espons A&#039; &lt;/em&gt;oleh si X] dan di hari yg lain anda kembali tersenyum ditanggapi melengos [&lt;em&gt;respon Z&lt;/em&gt;] !!!

Anyway,
Seperti insiden monas, tergantung siapa yg bicara, dengan menggunakan kacamata yg berbeda akan didapat persepsi yg berbeda mengenai sebuah fakta. 

Karenanya keahlian membentuk persepsi &lt;strong&gt;apabila jatuh ke pendekar berwatak jahat &lt;/strong&gt; akan sangat berbahaya. Persepsi bisa dimanipulasi. Masalahnya &#039;jahat&#039; atau tidak jahat juga dipengaruhi persepsi -sigh-. 

&lt;blockquote&gt;Yg lebih menyedihkan adalah kalau justru persepsi negatif ini adalah sesuatu yg sengaja dibentuk untuk suatu kepentingan. 2009 misalnya&lt;/blockquote&gt;

Secara umum, terlalu fokus ke usaha mengelola persepsi juga kurang pas, entah menggiring ke persepsi negatif atau positif. &lt;em&gt;Tebar pesona&lt;/em&gt; adalah salah satu contohnya :) Akibat dari perilaku tebar pesona yg berlebih, kesan yg muncul adalah sang pengambil keputusan terlihat tidak decisive, terombang ambing, peragu karena ingin menyenangkan semua pihak. 

&lt;blockquote&gt;Lebih baik membangun integritas. kalo memang gak suka emosional dan gak suka kekerasan, berarti ucapan dan tindakan juga harus sejalan… &lt;/blockquote&gt;

Sepakat. Dengan integritas, kita tidak perlu repot-repot lagi mengelola persepsi. Jika hati, ucapan, dan tindakan mencerminkan cinta damai maka persepsi orang akan terbentuk dengan sendirinya bahwa kita cinta damai. Makanya AA Gym mengembangkan manajemen kolbu bukan manajemen persepsi.

# Yoyon
&lt;blockquote&gt;Itu gambar orang lagi membantu orang lain nyeberang jalan.&lt;/blockquote&gt;

boleh sepakat untuk tidak sepakat. Contohnya, Dadank ternyata mengatakan: &quot;Masak jeruk minum jeruk&quot;. Bertolak belakang kan?? :)

Ada yg punya persepsi lain lagi tentang gambar itu?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p># dadank</p>
<blockquote><p>emm, berarti kata kunci untuk ‘membentuk respon’ adalah ‘membentuk persepsi’.</p></blockquote>
<p>To some extent &#8211; iya.<br />
Makanya ada ilmu psikologi masa, ilmu pemasaran, propaganda, kemampuan retorika dan sejenisnya. Itu semua terkait dengan usaha pembentukan persepsi.</p>
<p>Cuman perlu disadari bahwa manusia <strong>bukan</strong> program komputer yg bisa diatur dengan<br />
IF <em>persepsi A</em> then <em>respons A&#8217;</em><br />
IF <em>persepsi B</em> then <em>respons B&#8217;</em><br />
dst seperti dalam konsep <em>expert system</em>.<br />
Manusia terlalu kompleks dan dalam banyak kasus tidak <em>reliable</em>.<br />
Pernah gak anda suatu hari tersenyum pada si X ditanggapi senyum [r<em>espons A' </em>oleh si X] dan di hari yg lain anda kembali tersenyum ditanggapi melengos [<em>respon Z</em>] !!!</p>
<p>Anyway,<br />
Seperti insiden monas, tergantung siapa yg bicara, dengan menggunakan kacamata yg berbeda akan didapat persepsi yg berbeda mengenai sebuah fakta. </p>
<p>Karenanya keahlian membentuk persepsi <strong>apabila jatuh ke pendekar berwatak jahat </strong> akan sangat berbahaya. Persepsi bisa dimanipulasi. Masalahnya &#8216;jahat&#8217; atau tidak jahat juga dipengaruhi persepsi -sigh-. </p>
<blockquote><p>Yg lebih menyedihkan adalah kalau justru persepsi negatif ini adalah sesuatu yg sengaja dibentuk untuk suatu kepentingan. 2009 misalnya</p></blockquote>
<p>Secara umum, terlalu fokus ke usaha mengelola persepsi juga kurang pas, entah menggiring ke persepsi negatif atau positif. <em>Tebar pesona</em> adalah salah satu contohnya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Akibat dari perilaku tebar pesona yg berlebih, kesan yg muncul adalah sang pengambil keputusan terlihat tidak decisive, terombang ambing, peragu karena ingin menyenangkan semua pihak. </p>
<blockquote><p>Lebih baik membangun integritas. kalo memang gak suka emosional dan gak suka kekerasan, berarti ucapan dan tindakan juga harus sejalan… </p></blockquote>
<p>Sepakat. Dengan integritas, kita tidak perlu repot-repot lagi mengelola persepsi. Jika hati, ucapan, dan tindakan mencerminkan cinta damai maka persepsi orang akan terbentuk dengan sendirinya bahwa kita cinta damai. Makanya AA Gym mengembangkan manajemen kolbu bukan manajemen persepsi.</p>
<p># Yoyon</p>
<blockquote><p>Itu gambar orang lagi membantu orang lain nyeberang jalan.</p></blockquote>
<p>boleh sepakat untuk tidak sepakat. Contohnya, Dadank ternyata mengatakan: &#8220;Masak jeruk minum jeruk&#8221;. Bertolak belakang kan?? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ada yg punya persepsi lain lagi tentang gambar itu?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
