Peranan IE-ers di industri konstruksi

July 19, 07

Salah seorang rekan praktisi menanyakan ke saya melaui email bagaimana kompetensi IE bisa berperan di industri konstruksi. Berikut adalah petikan jawaban saya:

 

Menurut pendapat saya memang ada perbedaan yang sangat mendasar dari sisi operasional bisnis dari perusahaan konstruksi (seperti Rekayasa atau Keppel) dengan perusahaan manufaktur (seperti Astra International). Perusahaan manufaktur biasanya menggunakan pendekatan operations management karena sifat operasinya yang terus-menerus, produksinya yang masal. Perusahaan konstruksi biasanya menggunakan pendekatan project management karena hidupnya dari satu proyek ke proyek yang lain. Produknya biasanya unik dan sifatnya tidak masal.

Akibatnya perusahaan yang berbasis proyek biasanya tidak bisa langsung memanfaatkan konsep-konsep yang digunakan di manufaktur, seperti Six Sigma, Statistical Process Control dan sejenisnya. Saat saya masih di industri (kebetulan saya dulu bekerja di EPC company), perusahaan kami pernah mencoba menerapkan six sigma pada proyek. Ternyata agak kesulitan karena six sigma biasanya digunakan untuk produksi masal (sehingga muncul konsep seperti DPMO). “Produk” perusahaan kami biasanya unik: satu pabrik X di tempat A, pabrik Y di tempat B, platform Z dst.

hard hat

source: dari sini

Mengenai penerapan ilmu TI di konstruksi akhirnya memang sangat
tergantung kondisi dari masing-masing perusahaan. Tapi salah satu inti tujuannya nanti adalah peningkatan produktivitas dan kualitas dari bisnis proses secara sistemik.

Yang terpikirkan oleh saya, karena perusahaan berbasis proyek, hidup mati tergantung proyek, maka salah satu fokus utama perusahaan adalah bagaimana melakukan delivery proyek secara efektif (do the right things) dan efisien (do things right).

Dalam hal ini, disiplin ilmu teknik industri dengan konsep sistemnya
bisa sangat berperan. Contoh konkretnya misalnya adalah mengembangkan:

a. sistem untuk membantu pengambilan keputusan tentang proyek-proyek apa saja yang harus “dikejar” dari sekian banyak pilihan, bagaimana strategi bidding-nya, bagaimana cara mengestimasi biayanya, bagaimana mengubungkan tingkat resiko dan kontrak.

b. sistem untuk megelola hubungan (HR, budget, time, material,
kontrak) antara satu proyek dengan proyek lain yang sedang dieksekusi bersamaan (manajemen portofolio)

c. sistem untuk “menyimpan pengalaman” dari proyek-proyek sebelumnya (knowledge management). Bagaimana kita bisa belajar dari pengalaman proyek sebelumnya? Seperti kita tahu turn-around di perusahaan konstruksi cukup tinggi. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana caranya agar “karyawan boleh keluar masuk perusahaan tetapi pengetahuan mereka bisa ditinggal di perusahaan”.
[ Kebetulan saat ini saya sedang tidak jadi melakukan penelitian S3 di bidang (c) ini di National University of Singapore ].

Dan seterusnya, termasuk memodifikasi konsep kualitas di manufaktur agar bisa diterapkan di proyek, menerapkan konsep SCM untuk vendor-vendor kita, dsb.

Akhirnya hal apa yang akan dilakukan oleh departemen TI sangat tergantung pada prioritas kebutuhan di perusahaan tersebut.

(c) boed

Sila jenguk di sini untuk daftar perusahaan konstruksi di Indonesia

One Response to “Peranan IE-ers di industri konstruksi”

  1. dimasu Says:

    yap. biar bagaimana pun, bagian procurement memerlukan ilmu TI.. Apalagi saat ini ada kebutuhan akan peningkatan produksi minyak, dimana dibutuhkan sistem delivery yang cepat dan efisien …ilmu TI juga kan..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: