Yogyakarta, Tahun Baru dan Flu

January 4, 08

Liburan kali ini buat saya sangat menyenangkan. Ketemu keluarga, sholat Ied, mampir kampus, ketamuan eks mahasiswa, ke Borobudur, ke AmPlaz [maunya sih nonton ama istri, tapi filmnya mosok jelek2], ke Gembira Loka [Kirani naik gajah, saya? nunggu di mobil :P], dan so pasti ke toko buku nyari bukunya Umar Kayam.

borobudur

Anak saya Kirani ternyata udah tambah pinter. Karena hobinya (di)baca(in), anak 3 tahun ini udah faham angka 1-10 dalam tiga bahasa: Indo, java, english. Udah mengerti warna, dan banyak kosa kata bahasa Inggris (thks to Ibuknya). Berhubung udah disekolahin ke KB IT Warung Mboto, si burung pipit ini juga udah diajarin macem2 surat, doa, hadist, lagu. Kasian juga sih, tapi kayaknya dia enjoy aja.

Kirani Desember kemarin ternyata juga terima raport untuk semester pertamanya. Pertama liat format raportnya, kaget juga. Penilaiannya sangat-sangat komprehensif. Mungkin lebih dari 25 aitem penilaian dilaporkan. Saya bandingin jaman saya TK dulu paling 5 aitem cukup. Dari aitem yang buanyak banget itu, ternyata Kirani lebih menonjol di bidang matematika-logika sama konstruksi. Dia dapat grade “berhasil dengan sangat memuaskan” untuk semua aitem di bawah dua kategori itu. Yang agak lemah adalah di bidang motorik halus seperti mewarnai dan menggambar. Wah kok ya mirip ayahnya ya?😀

ki_amplaz.jpg

Yogyakarta menurut pengamatan saya tak terlalu banyak berubah. Satu perubahan yg menyenangkan buat IE-er seperti saya adalah udah dimulainya proyek busway bus patas (menurut pustral UGM, ini istilah yg lebih tepat) di Djokja. Well done. Itu menunjukkan bahwa pimpinan Djokja punya visi ke depan mengenai pengembangan transportasi masal.

Membandingkan kemajuan / perubahan [fisik] Djokja dan sekitarnya dengan Singapura memang gak pas. Tidak apple to apple. Lha Djokja kan emang kota yang adem ayem, tentram, harmoni. Singapura itu identik dengan target, efisiensi, bersaing, terbaik, ambisi. Tentu lainlah.

Sebagai contoh,waktu kami pergi ke borobudur lewat jalur pintas (keluar masuk kampung, buka jalan besar), saya terkesima bahwa jalur yg sudah 10 tahunan itu tidak saya lewati kok ya masih sama seperti dulu. Gak berubah. Bandingkan dengan misalnya kekagetan yg saya alami saat balik ke Singapura sehabis liburan itu; gedung ‘robot’ -begitu biasanya kami di Clementi menyebut bangunan condo dekat rumah- ternyata sudah tinggal separoh. Yup udah mo dirobohin buat dibangun yg lebih baru, lebih canggih, dan pastinya lebih mahal. Baru ditinggal dua minggu, gedung setinggi Gaban itu udah mau hilang ditelan bulldoser.

Gedung robot 01

Gedung robot 02
Gedung robot 03

Bagaimana dengan tahun baru Pak Boed?

Sejak jauh hari sebenarnya emang tidak ada rencana mau ngerayain. Buat saya tahun baru kok ya sama saja dengan hari baru atau pun bulan baru. Jadi ya gak perlu dirayain. Ndilalahnya, kok pas tahun baru itu saya malah kena flu berat. Flu mulai datang dengan riuh rendahnya beberapa hari sebelumnya dan efeknya masih terasa pas NY eve.

Tapi ya yang namanya tahun baru pasti akan jalan dengan ada atau tidak adanya saya to. Keliatannya perayaan tahun baru cukup meriah, buktinya anak2 kecil tetangga pagi-pagi tgl 1 masih toat toet niup trompet.

Trus apa ya tahun baru bener-bener tak ada maknanya? Buat saya mungkin tidak ada, tapi coba kita lihat buat orang-orang ini:

a. penjual terompet kertas yg dateng khusus dari luar kota

b. penjual wedang ronde di alun-alun, jagung bakar

c. tukang becak, sopir taksi

dan tentu tidak lupa:

d. pemilik hotel mewah, shopping mall, provider kartu hape,

dan lainnya.

8 Responses to “Yogyakarta, Tahun Baru dan Flu”

  1. yan9n Says:

    wah kirani dah pinter berhitung ya pak bud??? hehehe ditambahin satu bahasa lagi pak… bahasa jepang… ichi ni san yon go roku nana hachi kyuu juu… hehehehe…

    saya juga sama pak, tahun baru hanyalah sebuah rutinitas tahunan mengganti kalender di dinding hehehe meskipun tahun ini kalendernya belum diganti, ganti kalender meja.. hehe

  2. dadank Says:

    Pak boed,
    Kmrn sy gak ikut main ke tempat pak budi.
    Padahal pengin. hiks..
    Lagi ngerjain tugas kuliah dari pak titis yg hampir deadline.

    *jd ketauan kalo sering
    jadi deadliner tugas ^^

  3. pinandiTa Says:

    iya nih pak boed, gr2 tugasnya pak titis jadi ga ikut tempatnya pak budi…huhuhuhu.. padahal pgn ikut..
    provokasi mode : ON wkekehehe…:P piss!!

  4. b oe d Says:

    #Dadank, Dhita
    Wah padahal Pak Titis udah nitipin kunci jawabannya ke saya lho. Coba kalo kalian datang …

    #Mas Titis
    Boso Jepun ya? Wah lha saya juga gak bisa ngajarinnya.

  5. Aldani Says:

    Hm,..benar sekali pak, saya juga melihat adanya bus way di jogja merupakan perkembangan..mudah-mudahan jumlah kendaraan pribadi dan sepeda motor bisa berkurang ya pak,.
    nice day there..

  6. b oe d Says:

    # Aldani

    Dilihat dari sudut pandang Teknik Industri / human factor, saya agak pesimis dengan Bus Patas Djokja. [Para Ahli di pustral tidak mengkategorikannya sebagai Busway]. “Resistance to change” itu kata kuncinya.

    Sila jenguk artikel saya ttg transportasi.

  7. lindamulyani Says:

    hohohoho….
    perbedaannya saat ini jogja tambah panas Pak…

  8. lindamulyani Says:

    kirana…tambah nduut dan lutjue ya Sir..
    jadi kangen ma kirana
    ^^.)v


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: