Yet another Quiz: Mana model terbaik ??

January 31, 08

Hi all,
Mahasiswa teknik dan insinyur teknik sangat dekat hidupnya dengan ‘model’. Weitsz, tunggu dulu, maksudnya bukan model yang mondar-mandir di cat walk.

catwalk

Maksudnya di sini ya model = “penyederhanaan, mewakili, memperlihatkan beberapa sifat” dari sistem yang sedang kita observasi.

Contohnya?
Anak mesin memodelkan struktur channel box fitting pesawat dengan finite element untuk mencari jawaban berapa sih frekuensi pribadi dari struktur? ;
Anak IE memodelkan rantai pasok dari komoditi kedelai untuk mencari jawaban kenapa sih kedelai jadi mahal di Indonesia; dan seterusnya.

Oke, as usual kita lakukan tebak-tebakan alias kuis. Oiya, kalau ingin ikutan kuisz yg lebih menantang, sila jenguk di sini. Begini ceritanya:

Di bawah ini saya punya beberapa model.
Menurut anda, model manakah yang paling baik dan yang lebih penting nih: apa tuh alasannya?

Model 1 ~ wire mesh 3D CAD

model_01.jpg

Model2 ~ clay model

model_03.jpg

Model3 ~ 2D rendered artist impression

model_02.jpg

Model4 ~ free body diagram

model_08.jpg

Model5 ~ concept car

model_09.jpg

15 Responses to “Yet another Quiz: Mana model terbaik ??”

  1. aisyah Says:

    hmmm, tebak2annya bagus juga tuh pak….
    Sederhana tapi penting dan banyak kita ga tau tentang hal tersebut..
    Boleh numpang nebak aja nih. Berusaha bukan asal nebak tetapi dengan pengetahuan saya yang terbatas saja.
    Setahu yang saya tahu, model yang terpenting di antara yang ada (4 tergambar) adalah penting semua. Di sini saya melihat dari segi kebutuhan saja. Yang kita sebut model adalah memodelkan sesuatu yang sedang kita analisis, supaya memudahkan kita dalam menganalisis/observasi. Jadi tergantung analisis apa yang kita lakukan, maka model mana yang kita pilih itu adalah penting.

    Sebagai contoh, gambar nomer 1 bisa jadi penting untuk kita klo kita mau menganalisis finite elemennya (setahu yang saya tau, hehehe_red). Gambar 3 itu menjadi penting untuk analisis dari segi estetika, style, dan preference gitu kayaknya. Trus kayak gambar no 4 itu penting untuk perhitungan matematis dasar untuk hukum newton gitu.

    Ya semoga pak dosen nanti bisa membenarkan jawaban saya. Karena ini saya jawab setahu yang saya tahu aja.

    Gudlak pak Budi, semoga jaya terus untuk memberikan sumbangsih di dunia pendidikan.

  2. b oe d Says:

    #Aisy
    Good point.

    Hayo-hayo ada yg punya pendapat lain atau ingin menambahai / mengurangi jawaban Aisy?
    Boleh sepakat untuk tidak sepakat lho🙂

  3. dadank Says:

    setuju sama mbak aisyah, kalau ditanya mana yg paling baik ya jawabannya tergantung. tergantung tujuan memodelkannya untuk apa.

    misalnya,
    model 1: untuk analisis struktur
    model 2: untuk pengujian
    model 3: analisis estetika -> anak SR&D
    model 4: untuk soal ujian😉
    model 5: untuk prestis marketing

    mau tanya pak boed:
    kenapa ya, yg berjalan di atas catwalk itu disebut model? karakteristik apa/siapa yang diwakili? padahal orang kebanyakan, kan justru tidak seperti mereka…


  4. […] kalo kuis yg ini dirasa syusyah, ya udah ikutan yg ini aja: tentang model. […]

  5. b oe d Says:

    # Dadank
    Iya juga ya. Yg di catwalk itu mungkin mewakili “angan-angan” atau ‘harapan” dari yg nonton bukan realita.

    Kalo wakil rakyat –>itu model atau “mewakili” siapa coba?

    # ayo-ayo lanjut terus kuisnya.
    Masih ada satu point penting yg belum disebut. Sangat erat dengan dunia Teknik Industri.

  6. twejo Says:

    Wah betul itu pak..sampe sekarang saya ga tahu kalo wakil rakyat itu model atau mewakili siapa? mewakili keluarganya kali y =P

  7. yusuf nd Says:

    Menurut pendapat saya, perjalanan sebuah prouduct semestinya melewati semua fase, dari ide, konsep,prototype,uji dan evaluasi hingga produksi, serta inovasi.

    Setiap proses memiliki keunikan, dan dimodelkan dengan skala kepentingan tertentu.

    Ide yang muncul tentu saja akan dimodelkan dengan skets sederhana yang merepresentasikan imajinasi yang ada diotak kita. Apabila kita terburu-buru menganalisa ide tersebut dengan basic ergonomic, atau finite element, tentu saja akan berdampak kontraproduktif karena memang ini belumlah fase yang urgen untuk dilakukan.

    Ibarat sebuah insan yang akan menjalani samudra kehidupan, maka ia berwujud bayi, anak, remaja, mahasiswa, mahasiswa senior, mahasiswa paling lama(mapala), hingga akhirnya mjd DO………………….sen.

    Semua model merupakan tools yang semestinya diwujudkan utk menganilis, dan mengevaluasi sebuah siklus kehidupan produk.

    wallahu alam

  8. MALIK Says:

    FYI pak sekarang saya di EPSON …dah pindah dari indah kiat

    kalo menurut pengalaman saya pertama model no 5 dulu …. coret2 si designer kemudian di fixkan oleh designer ke model no. 1 setelah itu product engineer melakukan trial secara ato buat product secara terbatas pada model 2, model 2 dievaluasi lalu setelah tidak ditemukan defect atao kondisi abnormal dilanjutin ke pembuatan produk yang lebih banyak dari trial 1 model 5 setelah dievaluasi dan si engineer oke lalu di mass production


  9. […] tentang deal or no deal [gak banyak yg berani ikutan, tapi dah ada yg bener :)]; yg ketiga tentang model terbaik [ini juga lumayan […]

  10. ari'02 cewe Says:

    setuju jawaban aish, dan ucup.. hidup TI’02..
    (pembicaraane ilmiah banget)

    sedikit opini :
    yang penting dari model adalah bisa menampilkan karakteristik khusus sistem yang dibutuhkan untuk analisis, jadi bentuk model juga tergantung kedalaman/seberapa detail faktor-faktor yang kita analisis..
    misalnya : kita ingin tahu friksi yang dialami sebuah mobil, jika ingin tahu globalnya/ gambaran besaranya bisa pakai free body, tapi kalau maunya detail (lekukan segini senti di bodi sebelah sini friksinya berapa % dari lekukan segitu senti di bodi sebelah sini juga), nah itu pakai 3d cad mungkin ya…

  11. minan Says:

    Katanya Pak John Sterman, professor di MIT :” All models are wrong” (semua model adalah salah). Selama sesuatu itu disebut model, selama itu pula itu adalah salah, tidak benar, atau bukanlah kenyataan. Sebagaimana disebut di komentar2 sebelumnya, model “cuma” representasi sebagian sisi (atau bahkan sebenarnya cuma satu sisi) dari kenyataan.

    Yang penting menurut saya bukanlah pertanyaan manakah model yang paling valid, tapi apakah kita bisa melihat ada kebenaran dari model yang lain (jika dilihat dari sisi yang lain) dan kemudian dengan rendah hati mengakui kalo kita ternyata ga bisa meng-“capture” semua aspek dari kenyataan ada. Meski sepele, tapi kata pak Sterman, kemampuan untuk dengan rendah hati mengakui ada kebenaran dari model orang lain adalah penting karena ternyata, graduate student di MIT aja ternyata ga bisa memodelkan persoalan matematika yang sangat sepele (apalagi mahasiswa Indonesia, ya…?). dan makanya pak Sterman ini develop cara biar students disana bisa pny kemampuan yg kliatannya sepele tersebut.

    Regards,

    Nafiul Minan

  12. b oe d Says:

    #Pak Nafiul

    Terimakasih atas sharingnya pak.
    Pak Sterman memang pernah bilang begitu, lengkapnya “all models are wrong but some are useful”.

    Saya sendiri menulis kuis sederhana ini karena berdasar pengamatan saya, teman-teman / adik-adik IE-ers sering terjebak ke pemikiran:
    (*) semakin canggih / kompleks / sulit sebuah model dari sistem, semakin baguslah ia. Semakin banyak asumsi yg bisa direlaksasi, semakin baguslah modelnya. Tidak selalu begitu.

    Saya sepakat juga dengan pak Nafiul bahwa yg penting “bukanlah pertanyaan manakah model yang paling valid”. Rekan-rekan yg bergerak di mainstream hard OR sering melihat bahwa validitas dari sebuah model tercapai saat model bisa menirukan output dari sistem sebenarnya. Digunakanlah paired-t test untuk mengujinya. Metode validasi dengan pendekatan seperti itu sudah banyak dikiritisi oleh systems thinkers terutama mereka yg bergerak di soft mainstreams.

    Tapi sepertinya filosofi ini masih agak terlalu advanced untuk rekans mahasiswa level S1 [bahkan di NUS sekalipun]. Saat saya meyampaikan konsep ini dengan beberapa dari mereka [bahkan mereka yg tergolong smartest in their class], sepertinya masih timbul ‘kegoncangan pikiran’. Selama ini setahu mereka, yg namanya validasi ya membandingkan output antara hasil model (mungkin plus simulasinya) dengan sistem yg diamati.

    Sangat bisa difahami karena selama ini IE-ers masih dididik dalam mainstream hard OR.🙂

  13. minan Says:

    Saya kira, system thinking tu bukan hal yang baru bagi org indonesia, apalagi javanese. Kita sebenarnya terbiasa berpikir sistemik, secara holistik meski mungkin tidak sistematik. Mbah Maridjan bisa tau kapan Merapi menjadi bahaya apa ngga tanpa riset yang sistematik, tapi dari perilaku tumbuhan, tanaman, dan keseluruhan lingkungan di merapi.

    Wong jowo punya ilmu “titen” untuk “niteni” prilaku sistem, memodelkannya dan yang paling penting untuk bisa hidup selaras dengan sistem. Karena itu, wong jowo juga adaptif, karena dia sendiri “merasa” bagian dari sistem , sehingga ketika ada bagian dari sistem yang berulah, dia segera beradaptasi, mengubah perilaku dirinya agar sistem secara keseluruhan manageable.

    Tapi karena berpikir analitis merupakan mainstream yang lebih lama berkuasa, wong jowo jadi ikut2an menggunakan pola pikir analitis yang reductionist tersebut sehingga merasa kalo dirinya adalah entitas yang berada diluar sistem. Kita berusaha merubah sistem, tapi tidak mau tahu kalo “efek samping” yang terjadi adalah konsekuensi dari perlakuan kita terhadap sistem. Sehingga wong jowo sekarang cuma merasa bisa tapi ga mampu merasakan. Seharusnya :” Isoh-o rumongso ojo rumongso bisa”

    hehehe.., jadi kangen pak Harto, nih, hehehe…..

  14. febri Says:

    knlakan q febri…q ne mhsswa TI yg baru masuk…map y q cma ngsih opini aja…merutku sih…jika mau milih model mana yang penting itu ga ada yang penting karena keempat model itu harus bersatu atau saling ada kaitanya,model satu ga bkalan berguna atau penting kalau ga ada model lain,jadi kalau milih slah satu ja tu ga bakalan penting,so ya harus milih semuanya sperti mba aisyah bilang…map ya bkanya sok tau…

  15. b oe d Says:

    # Pak Nafiul

    Waduh maaf pak, komentar Bapak terselip jadi telat meresponnya. Terimakasih pak atas masukannya tentang filosofi Jawa.

    Sepertinya perlu terus digali ini Pak, terlihat adanya kesuaian antara systems thinking & Javanese (atau Eastern ?) philosophy

    # Fabri
    Good point


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: