Puncak gunung es: berpikir sistem

February 6, 08

Salah satu konsep yang digunakan oleh systems thinker untuk melakukan analisis adalah “system’s iceberg”. Dengan konsep ini, seorang systems thinker akan melihat bahwa sebuah kejadian (event) mungkin saja tidak berdiri sendiri. Berbeda dengan pendekatan reductionsim (yakni: breakdown masalah besar, cari solusinya satu-satu); systems thinking mencoba melihat permasalah secara holistik, kait mengkait dan memerlukan trade-off.

krl.jpg

source foto: dari sini

Contohnya adalah berita terbaru tentang penumpang KRL: “banyak penumpang KRL yg lebih senang hinggap di atap kereta”. Reaksi dari Perumka? beberapa metode udah dicoba: diteriakin pake speaker – gagal-; ditusuk-tusuk pakai galah -gagal maning-, disemprot-semprot, saya yakin juga tidak akan efektif [mereka nanti akan pake ponco sambil naik KRL, mungkin?].

Bagaimana systems thinker akan melihat permasalahan ini dari konsep system’s iceberg?
Gini lho ceritanya

Systems thinker melihat sebuah permasalahan setidaknya dalam tiga tingkatan: kejadian (event), perilaku (system behavior), dan struktur (underlying structure). Semakin ke dalam, analisis semakin syusyah karena konsep yg digunakan semakin abstrak. Namun biasanya, jika dilakukan dengan baik, solusi yg tersedia akan lebih baik.

iceberg.jpg

1. Event – pendekatan reaktif

Tingkatan paling atas adalah jenjang kejadian atau ‘event’. Jenjang inilah yang paling kasat mata, biasanya bisa ditangkap oleh panca indera.

Tgl 30 Februari, seorang penumpang KRL jatuh dari atap KRL, seminggu kemudian dua orang lagi jatuh. Ini adalah contohnya.

Pada gunung es, ‘kejadian’ terletak di atas permukaan laut, sehingga semua orang akan bisa melihatnya. Analis yang tidak terlatih, bahkan sebagian manajer cenderung akan bereaksi terhadap kejadian. Jadi kata kuncinya adalah reaktif.

Analis dan manajer yang bekerja pada level ini akan bertindak reaktif, seperti pemadam kebakaran. Jika ada kejadian kemudian akan bereaksi. Kejadian demi kejadian akan terlihat seperti kejadian acak tanpa terlihat ada kaitannya (seemingly unrelated random events).

Karena kejadian demi kejadian terlihat acak, maka mereka akan sangat sibuk ‘memadamkan api yg sedang terjadi’ dari satu kebakaran ke kebakaran lain. Slogan anda adalah ‘working hard’, karena semua energi dan waktu anda akan terkuras untuk pekerjaan rutin “memadamkan api yang tak habis-habisnya” tanpa sempat melakukan hal lainnya. Pernahkah anda merasakan hal seperti ini?

Untuk kasus penumpang jatuh dari KRL, pendekatan reaktif misalnya adalah dengan memperketat keamanan: memasang kawat berduri di atap KRL. Dua tiga hari setelah pemasangan mungkin tak ada lagi yg naik ke atap. Tapi, tentu kita tahu, penumpang KRL lebih kreatif lagi. Kawat berduri bisa dicabutin di hari keempat; petugas sibuk memasang lagi di hari ketujuh dst. Kucing-kucingan. Petugas PERUMKA sibuk ‘memadamkan api’ ~ working hard.

Jangan heran, karena pendekatan ini yg paling mudah, analisisnya pun paling kasat mata, banyak sekali pengambil kebijakan (pemerintah, manajer) yg akhirnya terjebak menggunakan pendekatan ini yg kadang berhasil tapi seringnya tidak.

2. Perilaku sistem – pendekatan antisipatif

Tingkatan yang lebih mendalam yg bisa dilakukan adalah dengan mengamati perilaku sistem. Satu faktor penting yg harus diperhatikan pada level ini adalah waktu. Dengan kata lain, kita akan coba melihat dinamika sistem dari satu waktu ke waktu yg lain.

Kumpulan kejadian-kejadian bisa dilihat dalam rentetan waktu sehingga -mudah-mudahan- akan terlihat pola-pola tertentu. Pada level analisis ini, kejadian tidak lagi dilihat secara individual sebagai fenomena random – pola / kecenderungan mudah-mudahan akan terlihat.

Jika kita punya pola data kejadian masa lalu so what gitu loh?

We lha, tentunya IE-ers akan segera bisa mengatakan: “hore kita bisa prediksi masa depan”.

Kalo udah bisa memprediksi masa depan?

Tentu kita bisa lakukan perencanaan antisipatif – kita tak lagi sekadar reaktif. Kita udah mulai working smart not only hard.

Sebagai contoh untuk kasus KRL tadi. Jika kebetulan ada karyawan PERUMKA yg membuat catatan kejadian accident dan incident (near miss) dari waktu ke waktu; mungkin tren atau pola nya akan keliatan.

Dari historical data yg ada, kemudian mungkin bisa dilihat bahwa ternyata pola data jumlah kecelakaan penumpang jatuh terkait dengan hari gajian. – Ini misalnya lho-. Pas hari gajian dan beberapa hari berikutnya, ternyata jumlah kecelakaan menurun. Pas tanggal tua, kecelakaan naik signifikan. Dengan pendekatan kedua (melihat perilaku sistem), akhirnya PERUMKA bisa melakukan perencanaan antisipatif untuk masa mendatang. Misalnya, saat-saat tanggal-tanggal tua keamanan ditingkatkan atau strategi lain yg lebih kreatif dan dikaitkan dengan tanggal tua / muda.

Sampai level ini anda sudah menggunakan pendekatan lumayan smart – tapi belum terlalu smart. Kejadian yg terihat berulang tidak akan bisa dihentikan / dicegah dengan pendekatan antisipatif. Kejadian tetap akan berulang, tapi anda sudah lebih siap: kapan harus mencurahkan resources untuk working hard – kapan anda bisa gunakan waktu untuk berpikir.

3. Struktur sistem – pendekatan generatif

Pendekatan terakhir ini paling susah, karena analis dan pengambil kebijakan harus memiliki kemampuan analitis abstrak plus visi. Untuk bisa melakukan analisis tahap ini, analis yg terlatih sekalipun biasanya untuk setiap kasus perlu bantuan pendekatan (1) dan (2) sebelum kemudian menyelam ke pendekatan (3).

Pada pendekatan ini, analis perlu mencoba melihat keterkaitan antara satu faktor dengan faktor lain. Tak ada faktor yg berdiri sendiri. Faktor-faktor yg saling mengait inilah yang nantinya memunculkan pola / kecenderungan yg biasa ditangkap analis level (2). Systems thinker biasa bekerja pada level (3) ini.

Melihat struktur sebuah sistem tidaklah mudah. Kadang hubungan antarfaktor terpisah oleh lokasi dan waktu. Sistem juga berubah setiap waktu, tidak jelas batasnya, dll. Jika analis bisa menggunakan pendekatan(3) ini, diharapkan solusi akan bisa digenerate. Anda tidak lagi hanya reaktif, ataupun antisipatif karena anda bisa mengenerate ide untuk mengubah sistem anda menjadi lebih baik.

Untuk kasus KRL, dengan bantuan pendekatan (2), anda melihat adanya hubungan antara tanggal tua dan tingginya kecelakaan. Anda kemudian mencoba mendalami dengan pendekatan (3), melihat struktur dari sistem. Ternyata didapatkan bahwa hubungan antara tanggal tua dan kecelakaan adalah hubungan tak langsung. Variabel yg menghubungkan keduanya adalah “uang transport yg tersisa di kantong” -ini misalnya lagi lho.

Gambar ruwetnya kira-kira seperti di bawah ini. Cara bacanya bisa dilihat misalnya di sini. Perhatian: analisis ini hanya ilistrasi fiktif, namun metode yg sama bisa digunakan untuk menganalisis kasus yg sebenarnya.

naikatap.jpg

Dari contoh analisis tersebut, bisa kita lihat beberapa hal:

– faktor-faktor yg ada ternyata saling mengkait. pemecahan masalah di satu tempat mungkin punya akibat negatif pada faktor lain;
– strukur sistem sifatnya sangat abstrak, sulit dideteksi, sulit dimodelkan;
– dengan melihat struktur sistem, kita bisa men-generate beberapa alternatif solusi. Misalnya:
a) meningkatkan kapasitas KRL sehingga kepadatan KRL bisa diturunkan sehingga menurunkan minat penumpang untuk naik ke atap
b) menyediakan moda transportasi alternatif (misal: monorail ) sehingga penumpang bisa dipecah ke berbagai jenis moda.

Sekali lagi contoh di atas adalah fiktif, demikian juga dengan alternatif-alternatif solusi yg ditawarkan.

Intinya adalah, dengan menyelami sistem sampai level strukturnya, kita bisa mendapatkan (men-generate) ide-ide solusi yg sifatnya bisa mengubah sistem dan tak mungkin terpikirkan jika kita menggunakan pendekatan (1) reaktif atau (2) antisipatif. Di level ini, anda bisa katakan bahwa anda sudah working smart.

BTW, ada yang bisa bantu beri penjelasan detail interpretasi gambar ruwet (namanya Causal Loop Diagram) di atas?

(c) boed

23 Responses to “Puncak gunung es: berpikir sistem”

  1. arief dwijanarko Says:

    Tulisan bagus pak Budi. Tapi bagaimana kita tau factor2 yang dimodelkan sudah merupakan factor yang representatif dari permasalahan yang ada?

  2. b oe d Says:

    # Halo Rief,
    Pertanyaan bagus yg jawabannya gak mudah.🙂

    Ada beberapa prinsip modeling yg bisa diterapkan, di antaranya:
    a. dialektik antara modeler dengan domain expert. Dialektik artinya ulang-alik. Modeler tidak bekerja dalam isolasi / sendirian kemudian … voila .. model dah jadi. Modeler harus melibatkan domain expert (orang yg faham betul seluk beluk sistem).

    b. Modelkan sesederhana mungkin, tapi jangan terlalu sederhana.
    Poin-nya adalah masukkan semua variabel yg relevan untuk menjawab research question dan meninggalkan variabel yg lainnya.

    c. Model harus selalu bisa dikalibrasi (di tempat lain disebut vaidasi). Untuk Systems dynamics, setidaknya ada 7 metode kalibrasi yg bisa digunakan.

    d. Pegangan utama dari system modeler adalah: ” setiap model selalu salah; tapi beberapa model mungkin berguna”

    Oiya, ngomong-ngomong Systems Dynamics bukanlah satu-satunya teknik modeling yg bisa dipake di systems thinking.

  3. Yan9n Says:

    hmmm menarik pak boed, setelah baca, dan liat bagian iceberg, saya kok jadi teringat teori identifikasi penyebab kecelakaan dalam accident investigation, dimana penyebab kecelakaan itu ada tiga:
    1. direct cause (penyebab yang keliatan secara nyata kenapa kok accident itu muncul)
    2. surface cause (hazard spesifik yg dapat berakibat kepada terjadinya accident)
    3. root cause (kondisi/behaviour yang dapat berakibat terjadinya accident dan seringkali diabaikan karena permasalahan/penyebab itu tidak muncul)

    kira-kira bisa ga pak pola berfikir seperti ini kita gunakan dalam menganalisis permasalahan yang dikemukakan pak boed di atas… hmm klo saya lihat… bisa juga ya… apalagi selama ini penyelesaian yg diselesaikan oleh perumka adalah bagaimana menyelesaikan direct cause dan sebagian kecil dari surface cause, sedangkan root causenya dianggap tidak ada…

    (lagi belajar berpikir sistem hehehe…)

  4. b oe d Says:

    Mas Yayan,

    Sepengetahuan saya, setidaknya ada dua pendekatan di accident investigation.

    Pendekatan yg paling popular adalah pendekatan chain of events. Di sini analis akan mencoba melacak balik accident dengan 5 pertanyaan why. Kecelakaan –> nangkring di atap –> why –> dst. Jawaban why yg ke5 itulah yg biasa disebut root cause.

    Pendekatan ini dikritik karena tidak bisa menjelaskan keterkaitan antara satu faktor dengan faktor yg lain. Dg kata lain systemic risk atau systemic hazard.

    Pendekatan kontemporer yg sudah mulai dikembangkan dalah dengan system-theoretic alias pendekatan sistem. Engineering systems division-nya MIT adalah pioneernya. Salah satu key personnya adalah Prof. Nancy Levenson. Sila googling di internet.

    Tiga poin yg dinyatakan mas Titis tsb menurut saya masih condong ke pendekatan pertama [chain of events].

    Mungkin ada yg bisa manambahi?

  5. b oe d Says:

    Tambahan buat pertanyaannya Arief,
    salah satu metode validasi yg bisa dilakukan adalah structural validation.
    Bisa diunduh di sini

  6. santy Says:

    halo budi,

    trims ya sudah kasih link ke source foto🙂
    dan trims juga sudah mampir ke Jakarta DP!

    salam kenal,
    santy.


  7. […] contoh bagaimana sebuah permasalahan coba ditelaah dengan pendekatan systems thinking. Sila lihat di sini tentang systems thinking. Ada beberapa karakteristik yg bisa diamati: (a) perilaku sistem kadang […]

  8. Isra Says:

    Dear Pak Budi dan rekan-rekan sekalian. Bisakah memberikan saya contoh tutorial penggunaan software pemodelan/simulasi dari diagram causal loop seperti Stella dan sejenisnya.
    Saya mau membuat tugas kantor di Depperin. Saat ini saya menggunakan Stella versi 8.0
    Barangkali ada masukan. Terimakasih.

  9. Nurdin R Says:

    Asw.

    Hallo Pak Budi…? Sht?

    Oh iya menanggapi tanggapan Pak Budi ke Mas Arief Dwijanarko, jadi teknik modeling yg bisa dipake di systems thinking selain Systems Dynamics itu apa ya PAk..?

    Dan bisa memberi penjelasan mengenai Pegangan utama dari system modeler adalah: ” setiap model selalu salah; tapi beberapa model mungkin berguna”

    Terima kasih,

    Wassalam

  10. Nurdin R Says:

    oh iya Pak Budi ada yang ketinggalan

    Satu kasus mengenai kemacetan kota Jakarta, memang cukup kompleks.

    Solusi yang dihadirkan mulai dari beraneka ragam jenis transportasi massal (bus way, monorail, dll) termasuk kebijakan adanya pembatasan pembelian BBM bersubsidi dengan smart card tampaknya belum menjadi solusi ‘optimal’….. jadi apakah mungkin celetukan seorang teman bahwa untuk mengurangi kemacetan kota jakarta hanya satu yaitu : “mengurangi daya tarik kota Jakarta.”

    Ada komentar Pak…..?

    Matur suwun

    Wasssalam

  11. b oe d Says:

    #Rekan Isra,
    Link yg ada di website saya di UGM mungkin berguna. Di bagian “system dynamics modeling”
    http://www.boed.staff.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=15&Itemid=29

    #Nurdin,
    Sebenarnya, jika diibaratkan pohon, sistems theory punya banyak cabang: hard, soft, dan critical. SD adalah salah satu dari cabangnya cabang (i.e. ranting).
    SD punya 2 kaki, satu kaki berada di ‘hard systems thinking’ sementara kaki yg lain berada di ‘soft systems thinking’. Cabang utama lainnya adalah ‘critical systems thinking’.

    Tools lain di bawah systems theory suangat banyak, antara lain: Influence diagram, Bayesian Network, Soft System Methodology, Hierarchical Holographic modeling dlsb.

    Untuk pertanyaan ” setiap model selalu salah; tapi beberapa model mungkin berguna”, ntar kita bahas di tulisan tersendiri aja.

    Untuk solusi kemacetan, salah satunya memang
    “mengurangi daya tarik kota Jakarta.” Misal adalah dengan memindahkan ibukota ke mana gitu. Seperti yg terjadi di Malaysia dan OZ. Cuman memang harus dipikirkan resistansi yg mungkin muncul.

  12. appreciativeorganization Says:

    Mas budi….kapan bisa dolan-dolan ke surabaya?
    biar ntar saya tanggap di depan mahasiswa unair….ngobrolin soal system thinking……

  13. b oe d Says:

    Boleh pak, tapi nanggepnya dari Singapore. Gmana pak??
    Posisi sementara saya sedang di SIN – ambil S3😀


  14. […] & Industri…jodi on The FAMb oe d on Teknik Industri & Industri…b oe d on Puncak gunung es: berpikir…appreciativeorganiza… on Puncak gunung es: berpikir…appreciativeorganiza… on […]

  15. b oe d Says:

    # Nurdin
    Untuk pernyataan “setiap model selalu salah; tapi beberapa model mungkin berguna”; jawabannya ada di paper dari Prof. Sterman, dari MIT.

    Abstrak bisa dilihat di sini


  16. […] Populer Tips berburu topik skripsi S1 ~ part 1Kompetensi Inti Teknik IndustriPuncak gunung es: berpikir sistemTeknik Merebus […]

  17. zaenal Says:

    assalamualaikum pa boed

    walaupun tema yang agak lama tapi pa minta tolong apa bedanya system thinking,systemic thinking dan systematic thinking

  18. desrinda Says:

    Tulisan yang sangat menarik, Pak.

    Memang pelajaran “berpikir” (mikir aja mesti diajarin ya?), kalau dihayati, sangat membantu proses memahami what-why-who-when-where-how things happen. Penerapannya membuat saya sedikit mengenal posisi saya di atas bumi Tuhan.

    • b oe d Says:

      Makasih Bu Desrinda
      Allah memang meminta kita selalu berpikir saat berbaring, duduk, berdiri.

      Mencoba melihat ayat-ayat yang sifatnya implisit. Untuk kebaikan manusia dan alam.🙂

  19. ti2n Says:

    tulisan yang sungguh menarik!
    runtut, sistematis dan mudah dipahami. TFS Pak Boed, sudah mengijinkan saya untuk ‘nderek sinau’ di sini🙂

  20. Andi Says:

    Tulisan yang bagus… Thanks Mas Boed..
    Saya mungkin tertarik jg menggunakan pendekatan ini di persoalan lain di sekitar saya.. Nanti saya ta belajar dari jenengan.

    • b oe d Says:

      Makasih pak Andi.
      Pendekatan ini memang dipakai dibanyak ranah, misal:
      management & business, public policy, engineering, safety / security, dll.
      Ada beberapa buku bagus terkait dengan systems thinking dan pemodelan serta simulasinya.🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: