Kuis Ringan Teknik Industri: sebuah jawaban

May 14, 08

Setelah perdebatan yg panjang tentang tebakan di sini, saya akan memperlihatkan jawaban versi saya. Pembaca yg belum membaca kuis tebakannya, sangat dianjurkan untuk membaca pertanyaannya, mencoba menjawab sendiri, dan melihat bagian komentar yg ada. Sangat dianjurkan:)
Seperti biasa, kita bisa sepakat untuk tidak sepakat. Asal ada argumentasi yg kuat🙂

Note: tulisan yg berwarna hijau adalah detail teknis yg melibatkan beberapa konsep statistik. Bagi anda yg awam dengan statistik, sila skip bagian tersebut tanpa perlu khawatir kehilangan konsep dasarnya.

# Koinnya kayak apa sih?

heheheSebenarnya di sinilah sumber dari segala sumber perdebatan. Koin yg bikin heboh itu saya taruh di ujung bawah sana, bukan yang di atas itu lho.

wah pak Boed curang nih. Katanya koin antik dengan dua muka …

Lha ya iya kan? coba amati lagi pertanyaan aslinya, saya bilang dua muka (head and tail), dan antik karena bentuknya gak seperti yg biasa🙂

Oke kita flash back ya

# Fakta pada soal kuis

– koin antik dengan dua muka

– koin belum pernah anda lihat

– koin yg sama di lempar berkali-kali

itu saja fakta yg anda miliki lho!

# Analisis

pak Boed, koin kan seharusnya punya peluang 50:50 untuk sisi tail dan head?

Bukan seharusnya, tapi biasanya. Di sinilah masalah yg paling mendasarnya. Saat membaca soal kuis sebagian besar dari kita akan take for granted menyatakan bahwa koinnya seperti gambar di atas, sehingga peluang head & tail adalah 50:50 (biasa disebut fair coin). Untuk kasus kita, sebelum artikel ini anda baca anda belum pernah liat uangnya kan? Saya juga tidak pernah mengatakan bahwa koinnya fair coin. Jadi dalam kasus kita, 50:50 adalah asumsi yg anda buat [mungkin secara tidak sadar] bukan fakta.

Asumsi lain adalah seperti yg disampaikan mas Arief, cara lemparnya biasa ato gak, pakai tenaga dalam yg bisa mempengaruhi hasil ato gak dll. Untuk penyederhanaan masalah, dianggap saja cara lemparnya normal-normal saja.

Saat anda diberi laporan hasil lemparan 3x dan 10x, asumsi awal anda bahwa koinnya fair coin masih bisa diterima. Anda menggunakan asumsi awal yang umum dipakai masyarakat [yang namanya koin biasanya ya seperti gambar di atas]- anda belum punya cukup info untuk memvalidasi asumsi anda. Namun begitu lemparan sudah dilakukan 1000x [sorry mas Yayan, saya gak pinjem koin-nya, koin kita beda], anda sudah mendapatkan –meminjam istilah Ais dan diperkuat DimasEVIDENCE baru yg cukup kuat, bahwa koinnya bukan koin biasa. Evidence baru: dari 1000x lempar ternyata 70% nya muncul tail. Ini fakta!

So saat anda mendapatkan evidence baru yg bertentangan dengan asumsi awal anda, apa yg seharusnya anda lakukan? Ikut evidence baru atau keukeuh dengan asumsi awal?

Saatnya anda mengubah asumsi anda. Evidence tersebut memang evidence yg tidak langsung (biasa disebut proxy) namun cukup kuat bagi saya untuk merevisi asumsi awal saya: ternyata koin-nya bukan koin biasa, not a fair coin🙂

# note:

(a) jadi jawabannya cukup jelas: kira2 P(T) untuk lemparan ke 1001 adalah 70% atau setidaknya bisa dinyatakan: lebih besar dari 50%, karena anda sudah cukup mendapatkan evidence untuk tidak menggunakan lagi asumsi fair coin.

note of this note: uji hipotesis Ho: p=0.5 (fair coin) mungkin membantu jika kasusnya masuk grey area. Misal hasil yg didapat head 450, tail 550. Untuk kasus kita, cukup clear untuk menolak Ho dengan estimasi (tanpa hitungan). Jangan tenggelam dalam detail jika tak perlu– fokuskan ke konsep. Lebih baik approximately correct daripada precisely wrong. Kita engineer 🙂

(b) Jawaban bahwa P(T) untuk lemparan ke 1001 kira-kira 70% tidak melanggar prinsip ‘hasil lemparan saat ini tidak dipengaruhi hasil lemparan sebelumnya’. Konsep tetep berlaku😀

(c) sekali lagi, di kuis ini, asumsi implisit yg digunakan sebagian besar penebak adalah bahwa koin-nya fair coin [inilah jawaban pertanyaan 1b & 2b]. Independensi hasil lemparan yg berurutan -menurut saya- adalah implikasi dari fakta yg telah disebut di atas. Tidak perlu diasumsikan.

(d) Saat anda pertama kali melihat koin saya, terjadi apa yg disebut ‘perubahan paradigma’ atau ‘paradigm change‘. Dibahas kapan-kapan dah.

# Insights:

1. Tentang Asumsi: asumsi tidak diharamkan, tapi resiko ditanggung sendiri

– seringkali kita kesulitan membedakan fakta dan asumsi.

50:50 untuk lemparan koin –> fakta atau asumsi🙂 ? Saat anda tidak menyadari bahwa yg anda gunakan adalah asumsi (bukan fakta) maka akan sangat sulit buat anda untuk mengubah cara pandang anda, menjadi kreatif dan kritis, out-of the box thinking : kasus menjadi take for granted, been there done that, if ain’t broke don’t fix it.

Seringkali kita bisa menemukan breaktrough idea dengan cara mempertanyakan asumsi dasar yg sudah taken for granted oleh kebanyakan orang.

– asumsi tidak boleh menggantikan data, jika memungkinkan kejar data. Asumsi digunakan untuk menambal ketiadaan data. Sekali lagi – resiko penggunaan asumsi ditanggung sendiri.

– asumsi bisa berbahaya, inilah contoh resiko penggunaan asumsi yg ternyata meleset:

Masih inget kasus Mars Climate Orbiter ? Proyek senilai $125 Juta gagal hanya karena masalah sepele: lupa menyamakan satuan.

Failure to convert English measures to metric values was the root cause of the loss of the Mars Climate Orbiter, a spacecraft that smashed into the planet instead of reaching a safe orbit, a NASA investigation concluded Wednesday.

Wah Pak Boed, masalah di NASA ini kok levelnya ‘ujian mahasiswa’ banget

Yoi. Kemungkinan di JPL-NASA, tidak ada yg melakukan pengecekan hal ini, karena diasumsikan bahwa satuan yg digunakan pasti sudah sama. NASA gitu lho, mosok masalah level mahasiswa kejadian di sono – mungkin itu asumsi mereka.

– asumsi dan tindakan

asumsi -sadar atau tidak sadar- akan mempengaruhi cara berpikir dan tindakan kita. Meski mungkin tidak sama persis, asumsi bisa disejajarkan dengan paradigma atau peta pikiran-nya Steven Covey (the Seven Habit) maupun mental model-nya Peter Senge (the Fifth Discipline) dan Sterman (Business Dynamics). Jika anda sedang berdiskusi dengan rekan anda, coba adu asumsi anda untuk menemukan solusi.

– asumsi dan pemodelan sistem

Salah satu teknik yg digunakan di Teknik Industri untuk mengecek (surfacing, challenge, change) asumsi yg dimiliki seseorang atau sekelompok orang adalah dengan ‘pemodelan formal dari sistem yg diobservasi’ dipadukan ‘analisis masalah secara partisipatif’ [kapan-kapan dibahas].

2. Sudut pandang manajemen resiko

a. sumber dari resiko: ketidakpastian

Jika segala sesuatu di dunia ini sudah pasti dilihat dari sudut pandang pengambil keputusan, maka tidak ada yg disebut resiko.

b. dalam kasus tebakan tadi, ada 2 sumber ketidakpastian

> pertama: ketidaktahuan akan bentuk koin yg digunakan

Akibatnya kita tidak pernah tahu apakah koin-nya fair coin (50:50) atau tidak. Asumsi awal fair coin ternyata harus direvisi karena evidence menunjukkan sepertinya bukan fair coin.

Sumber ketidakpastian yang disebabkan terbatasnya informasi (i.e. ketidaktahuan) di manajemen resiko biasa disebut epistemic uncertainty. Ketidakpastian jenis ini sifatnya reducible, atau bisa dikurangi. Caranya? tentunya dengan mencari tambahan informasi.

We gitu ya Pak. Jadi kerja business intelligent, FBI, menguji prototip produk, uji klinis obat bisa masuk ke kategori mengurangi resiko jenis ini ya Pak?

Pinter, ya betul. Makanya di decision-theory kita mengenal konsep value of information karena tambahan informasi itu berguna untuk menurunkan (epistemic) uncertainty.

> kedua: variasi hasil lemparan akibat dari koin yg punya 2 muka

Biasa disebut aleatoric uncertainty.

Krik, krik kayak jangkrik. Istilahnya menarik.

Halah [tm]. Asumsikan bahwa anda sudah tahu persis bentuk koinnya. Apakah anda bisa menebak dengan 100% akurasi untuk lemparan berikutnya?

Gak bisa juga pak. Soalnya koinnya punya 2 muka yg berbeda. Yg bisa saya tebak cuman besarnya kemungkinan.

Yup itulah yg disebut variabilitas atau noise. Ketidakpastian jenis ini tidak bisa dijelaskan dengan mencari informasi tambahan. Makanya disebut irreducible. Variabilitas sifatnya gawan bayi (inherent) dari proses yg ada di sistem itu. Karena koin punya 2 muka, jika dilempar berulang-ulang, kemungkinan akan muncul head atau tail meski mungkin dengan tingkat kemungkinan yg beda.

Ketidakpastian jenis ini tidak bisa dikurangi dengan mencari tambahan informasi. Jalan yg bisa ditempuh adalah dengan membuat sistem anda lebih robust (tahan terhadap noise, karate, tarung drajat) atau flexible (cepat beradaptasi jika ada noise, taichi, aikido) atau dua-duanya – dibahas kapan-kapan.

😀

8 Responses to “Kuis Ringan Teknik Industri: sebuah jawaban”

  1. yan9 Says:

    oooh koin antiknya seperti itu toh?
    ndak ngerti hehe
    ntar malem aja deh dibacanya…
    masih mumet dengan Arterio Venous Anastomosis, mekanismenya seperti apa… juga counter current heat exchange… dan masih banyak “quiz” dari sensei yang belum saya temukan jawabnya…

    gomennasai…

  2. ceisar Says:

    Hm…bapak cukup cerdik. saya juga bener2 gak perhatikan kata-kata “belum pernah dilihat”…jadi kejebak deh..

    Tapi mau tanya pak, maksudnya pakai asumsi boleh, tapi hati2 kejebak apa ya pak?

    Kan ada juga tuh pak temen2 yang buat asumsi: koinnya 2 sisi. nah, dengan asumsi sepeerti itu…jawaban 50% bisa benar dong pak…kan bebas buat asumsi sendiri.
    He5. maksa banget ni ya pak…^_^

  3. dimasu Says:

    Saya sudah duga, pasti ada jebakan batman. Gak mungkin koin biasa bisa ekstrim menghasilkan 30-70 ^^

    keren keren..
    ditunggu “paradigm change”-nya.. hehe

  4. b oe d Says:

    # Mas yayan titis
    Iya dong antik gitu loh.
    Wah, kok mas Titis belajar anatomi?

    #Ceisar

    Tapi mau tanya pak, maksudnya pakai asumsi boleh, tapi hati2 kejebak apa ya pak?

    Mm, yg saya bilang: silahkan pakai asumsi, resiko ditanggung sendiri pemakai asumsi. Karena asumsi bisa benar bisa salah. Asumsi tidak sama dengan fakta. Contohnya seperti kasus di NASA itu, mereka berasumsi dan ternyata salah; resikonya adalah project gagal total.

    Kan ada juga tuh pak temen2 yang buat asumsi: koinnya 2 sisi. nah, dengan asumsi sepeerti itu…jawaban 50% bisa benar dong pak…kan bebas buat asumsi sendiri.

    Contoh lain: Karena tidak tahu, saya berasumsi bahwa Ceisar itu cowo – trus saya kasi hadiah ke Ceisar –> sepatu cowo. Kalo ternyata Ceisar CeWe berarti kan asumsi saya salah dan tindakan saya membelikan sepatu CoWo menjadi salah juga.

    Anda bebas membuat asumsi, tapi konsekuensinya -terutama jika salah- harus anda tanggung. Lagian jika dalam perjalanannya anda menemukan cukup bukti bahwa asumsi awal anda salah, anda tentu harus merevisinya.

    #Dimas
    Ya begitulah. Cuman inti utama dari kuis ini bukan masalah jebak menjebak lho. Jebak menjebak biar jadi urusan KPK saja. Ini masalah asumsi dan fakta.🙂


  5. wah,, ngerti awa. saya belajarTI dari bapak aja y!

  6. Ridha Says:

    Kok analisa saya bisa sama yah…. heheheh

  7. b oe d Says:

    # Ridha
    Yoi friend, karena kita satu guru satu ilmu😀
    yell boys !! [eh PN pake yel itu gak sih?]

  8. angga73 Says:

    wah wah.. Pak boed ini…
    tapi setelah di baca bener juga seh…
    paradigma kita.. selalu mikir dalam kotak… padahal masi banyak hak lain diluar “kotak” kita.. hehhe..
    ditunggu pak tulisan lainnya.. ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: