Whistle Blower

June 2, 08

Entah kenapa hari ini saya pengin share tentang profesi dan etika. Di perkuliahan, materi ini biasanya saya taruh dalam satu bab khusus tentang etika di mata kuliah teori keputusan dan manajemen proyek.

Materi ini mendapat tanggapan hangat oleh adik mahasiswa karena formatnya debat. Bicara profesi dan etika memang tidak ada habisnya😀

.
OK, Kali ini kita akan bicara sedikit tentang whistle blower. Yg semprit-semprit itu.

Hore, akhirnya Pak Boed bicara tentang Piala Euro ya Pak? Pak Boed jagoin mana? analisisnya gmana?

Halah, saya bukan komentator Bola. Saya sih jagoin Inggris, dan Inggris gak lolos ~ tapi whistle blower yg ini gak ada hubungannya sama Piala Euro.

Yach kirain

Tapi tetep menarik untuk disimak dan dikomentari. Mau tahu selengkapnya?


Masih ingat kasus Enron?

Intinya, Enron dan auditornya Arthur Anderson melakukan kongkalikong laporan audit, untuk memperlihatkan bahwa Enron -salah satu perusahaan energi terkemuka di dunia, perusahaan terbesar ketujuh di US- dalam keadaan sehat secara finansial. Padahal saat itu Enron secara finansial sedang krisis.

Jeffrey Skilling, Enron’s former chief executive [CEO], faced 28 counts of fraud, conspiracy, insider trading and lying to auditors for allegedly trying to fool investors into believing Enron was healthy before the firm crashed.

Kasus Enron bisa diungkap atas keberanian seorang karyawati dari Enron sendiri.

Sherron Watkins’ life was turned upside down after she sent a memo to Lay [salah satu bos Enron yang lain] in 2001, warning that the firm could “implode in a wave of accounting scandals”.

She subsequently gave evidence against Lay and Skilling.

Ms Watkins was praised for her role in exposing the deception and greed at the heart of what was once America’s seventh largest company.

Menurut saya, Bu Watkins patut diacungi jempol atas keberaniannya. Karena merasa bahwa ada praktek perusahaan yg tidak sesuai etika, beliau berani menyampaikan / memprotes hal tersebut ke atasannya. She is the whistle blower.

Keberanian yg luar biasa. Kita bisa bayangin kondisi beliau:

karyawan biasa aja, dalam artian bukan berada di posisi yg punya kuasa yg besar; ternyata beliau adalah Vice President of Corporate Development at the Enron Corporation menurut tante Wiki
– berani menyampaikan sesuatu yg menurut dia benar;
– mengesampingkan kemungkinan resiko pribadi: disingkirkan, dibenci kolega, ditekan atasan, dianggap sok suci, mungkin ujungnya bisa dipecat atau bahkan dituntut balik karena pencemaran nama baik.

So, pertanyaannya adalah, jika anda pada posisi seperti Ibu Watkins, apakah anda akan melakukan hal yg sama dengan yg dilakukan beliau? Atau gimana? trus alasannya apa?

Waduh pak Boed, itu pertanyaan cocoknya untuk mas / mbak yg udah lulus. Saya masih mahasiswa je, gak punya pertanyaan yg lebih gampang?

Oke, masalah yg sama bisa terjadi dalam konteks lain. Begini:

Bayangkan bahwa Anda punya banyak teman. Dari pergaulan tersebut anda merasa bahwa seorang teman anda (si X) sudah melakukan tindakan yg menurut anda sudah kelewat batas: melanggar prinsip yg anda anut. Masalahnya, anda tidak punya hard evidence yg mendukung, semuanya hanya samar dan berdasar intuisi.

Yg menjadi komplikasi, tindakan yg menurut anda ‘tidak sesuai prinsip anda itu’ bisa jadi diinterpretasikan ‘itu gak masalah kok’ menurut teman anda si X tadi. Saat anda bicara dengan beberapa teman yg lain, mereka lebih cenderung setuju dengan anda: tindakan itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yg berlaku umum.

Konteks berbeda tapi komplikasi dan dilemanya tetap sama. Apa yg akan anda lakukan? menjadi whistle blower dengan segala konsekuensinya ato anda menggunakan prinsip ini: see no evil; hear no evil; speak no evil atau anda punya resep yg lebih jitu?

Ditunggu ya komentarnya🙂

ilustrasi

————

Artikel terkait:

Young engineer’s dilemma

16 Responses to “Whistle Blower”

  1. yoyon Says:

    sekarang kabar Bu Watkins gimana pak?
    Setelah dia jadi whistle blower, Enron kolaps, mungkin gak ya kalau dia lalu di-PHK?
    Kalau iya di-PHK apa dia menyesal ya?

  2. simbah Says:

    saya ingin mengomentari tulisan yang hijau: kalau memang menurut anda, tindakan teman anda itu tidak sesuai dengan prinsip yang berlaku umum, ya sebaiknya anda memberitahu si X itu. apabila nanti si X berpendapat lain kan bisa jadi bertukar pendapat (berdiskusi). namun apabila masalah yang dikemukaan memang cukup sensitif dan beresiko menimbulkan perselisihan apabila dikemukakan, ya sebaiknya ditimbang-timbang dahulu apakah perlu diberitahukan secara langsung. mungkin ada cara-cara lain yang tidak secara langsung bisa ditempuh dan tidak menyinggung pihak yang bersangkutan

  3. b oe d Says:

    #Yoyon
    Betul mas, Enron kolaps. Tapi saya pikir ini hanya masalah waktu saja. Sooner or later it would. Secara fundamental Enron saat itu sudah rapuh

    #Simbah
    Thks juga sarannya.😀
    Mungkin salah satu caranya dengan menulis di blog ya😀

  4. Hatsari Says:

    Assalaamu’alaykum…
    Mo coba ikutan ngasih pendapat boleh yah mas Bud…..untuk tulisan yang hijau itu tuh…:-)

    Secara teory sebagai saya bisa majukan riwayat ini deh : “Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan, kalau tidak mampu ubahlah dengan lisan,kalau tidak mampu juga maka bencilah di dalam hati (dan yang terakhir itu adalah selemah-lemahnya iman).

    Jadi kalau merasa sanggup menerima resiko maka yah sampaikan saja karena dalam riwayat lain “Katakanlah yang benar itu meskipun kebenaran itu pahit rasanya”

    Nah kalau nggak sanggup menerima resiko yah bencilah di dalam hati dan diam saja,.karena dalam riwayat lain dikatakan “barangsiapa yang beriman pada Allaah dan hari Akhir,..maka berkatalah yang baik-baik atau diam saja..”

    Jadi kalau dengan berkata-kata dikawatirkan bisa memberikan dampak buruk dan kita belum siap menerima dampak buruk tersebut dan atau ketidak mampuan menyampaikan dikawatirkan bisa memberikan salah paham atau malah membuat runyam mungkin yah baiknya diam aja deh tetapi tetap tidak menyetujui ketidak beresan yang dimaksud tersebut.

    Gitu kali pendapat saya mas Bud, baru tahu kalau itu istilahnya “whistle blower”, terimakasih banyak atas share ilmunya….

  5. b oe d Says:

    # Mas Hatsari
    Wa’alaikum salam Wr. Wb

    Makasih sekali masukannya mas, dilihat dari sudut pandang agama yg kita anut.😀
    Terlihat sekali di sini kalau aturan Islam itu firm yet flexible. Penganutnya yg beraneka ragam tingkat ilmunya diberi beberapa alternatif solusi yg bisa disesuaikan konteks dan kemampuannya.

  6. Yan9n Says:

    wah baca blognya jadi kangen sama istri…
    soalnya waktu kmaren istri coba bikin research proposal, denger dongeng collapse-nya arthur anderson, perusahaan auditing yg kalo ga salah merupakan big five international accounting firm yang dia collapse karena skandal enron itu… karena collapse itu, skarang hanya ada big four intl accounting firm di dunia, salah satunya perusahaan tempat istri bekerja🙂
    kasus sama juga terjadi di jepang, di mana salah satu auditor yg masuk 4 besar tadi juga terlibat skandal di perusahaan kanebo, dimana auditornya menyembunyikan kerugian yang dialami oleh kanebo..terusannya saya lupa hehe sepertinya nyangkut ke JSOX di jepang sini

    maaf OOT

    back to the topic,
    klo saya dalam kondisi seperti itu… biasanya saya bilang to the point langsung ke teman saya, kalo teman sampai tersinggung dan cenderung menghindar dari saya… itu resiko saja… bagaimanapun kan kita sudah menyampaikan ke dia kalo yg dia lakukan itu melanggar prinsip, terserah dia mau terusan melanggar prinsip atau bagaimana… it’s his choice… toh kita sudah mengingatkan kan?

  7. b oe d Says:

    # Mas Yayan
    Lessons learned dari cerita pertama mas Yayan: sedapat mungkin jaga integritas supaya gak kolaps.
    BTW, kanebo yg saya tahu merek lap buat cuci mobil. Bener gak?😀

    Bahagian kedoea,
    Baik, saia akan tjamkan selaloe.

  8. Yan9n Says:

    AFAIK kanebo itu perusahaan kosmetik di jepang…

  9. dihar Says:

    Nambah dikit pak,

    Perlu diclearkan bahwa kita tidak membenci personal si X nya. Yg tidak disetujui adalah (beberapa) tindakannya.🙂🙂

  10. dimasu Says:

    uhm.. kalo di perusahaan tempat saya kerja sih belum ada (atau belum terlihat). Tapi saya pernah menemukan kecurangan oleh pihak luar yang terlibat dengan perusahaan tempat saya kerja. Karena masih karyawan ecek2, untuk sementara saya diam dulu. Nanti kalau sudah jadi bos, saya angkat ke permukaan (karena kalau sudah jadi bos, pengaruh untuk didengarnya lebih besar).. Yah, sementara ini baru niat untuk nyentil lewat tulisan di blog. hehe..

  11. Dino Says:

    Tulisan yang menarik sekali Pak Bud.
    World Bank setiap tahun mengeluarkan Doing Business Report, dan salah satu hal yang dilihat untuk membuat rankingnya adalah proteksi terhadap whistleblower. Tentu saja proteksi terhadap whistleblower di Indonesia sangat sangat rendah. Jadinya rangking Indonesia juga jadi sangat rendah.
    Saya yakin banyak orang di Indonesia memiliki etika yang tinggi dan hati yang bersih. Tapi ketika melihat suatu hal yang tidak baik, mereka lebih baik diam. Saya sendiri juga seperti itu, asalkan bukan saya yang melakukannya, hati saya bakal tenang. Mungkin pemerintah perlu membuat program untuk melindungi pahlawan2 ini.
    Salam kenal pak.

  12. b oe d Says:

    #Dimasu
    tetep semangat, mudah2 an tetep istikomah😀

    #Dino
    Makasih Mas Dino atas informasinya. Saya juga pernah dengar di beberapa negara, pemerintah sudah membua peraturan untuk melindungi para whistle blowers. Indonesia mungkin perlu untuk memulainya.

    COntoh yg agak menyedihkan adalah Whistle blower di IPDN (Pak Inu) yang ‘ditendang ke atas’

  13. tamie Says:

    Berat jg nieh topiknya. Hmm.. kalo di Indonesia orang macam Bu Watkins tuh pasti dah diteror abis2an dah.
    Salut buat orang2 macam Bu Watkins.. =D

    nb. salam kenal.. numpang baca2 y..

  14. dhee Says:

    hehehehe…
    ****
    IngetDiKantor.com
    ****

  15. sumarni Says:

    najis tralala . . .
    di indonesia sini kayanya semua instansi dan perusahaan melakukan seperti enron itu dan gak ada wistelblowernya. ampe gak percaya kalo di negeri gajahmada ini bakal lahir seorang watkins


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: