Teknik Merebus Katak

June 25, 08

Salah satu tugas utama dari Industrial Engineers (IE-ers) adalah melakukan perbaikan sistem. Jika kita ingat, di konteks perkuliahan, kita diminta melakukan analisis optimisasi -misalnya-; maka hasil dari analisis adalah sebuah rekomendasi untuk melakukan sesuatu.

Dalam konteks kerja yg sesungguhnya, tugas IE-ers mungkin tidak cukup berhenti di rekomendasi. Ada satu tugas lagi yg sangat kritis, dan menurut saya paling susah: mendorong implementasi. Saat itulah, kemampuan IE-ers sebagai change agents akan diuji. Karenanya, kemampuan untuk mengelola perubahan (change management) akan menjadi satu kemampuan yg sangat penting buat iE-ers.

Tak ada gunanya kan, anda sudah susah-susah mencari data, menganalisis, mensimulasikan, memberikan rekomendasi namun akhirnya rekomendasi itu tidak jalan? So mengelola perubahan menjadi satu tahapan krusial di sini.

Kali ini kita akan bicara tentang teknik merebus katak.

Priiiit !! Pak Boed, topiknya sadis pak. Gak cocok buat saya yg pecinta binatang. Wah bapak dah mulai aneh-aneh, nanti ada yg demo trus bakar-bakaran lho. hayo !!!

Tenang-tenang jangan anarkis, istilah teknik merebus katak ini hanya metafora lah. Jangan diartikan literal. Konsep ini adalah salah satu konsep yg mesti dipahami oleh systems thinker. Bahkan prinsip dasarnya bisa kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Ceritanya gini

Konsep teknik merebus katak sangat erat kaitannya dengan change management. Saya ambil cerita nya dari buku the Fifth Discipline-nya Pak Peter M. Senge.

Katanya nih -soalnya saya sendiri belum pernah eksperimen-; jika anda taruh seekor katak di sebuah panci berisi air mendidih, maka secara refleks katak itu akan melompat ke luar panci, sehingga selamatlah dia. Namun, kalo anda taruh katak tersebut di panci berisi air biasa dan kemudian secara perlahan sekali anda panasi panci tersebut, ternyata sang katak nggak ngeh. Indra yg dia miliki gagal untuk merasakan perubahan -dalam hal ini perubahan yg berefek negatif- sampai suatu saat temperatur air sudah sangat tinggi dan sang katak akhirnya terlambat untuk menyelamatkan diri. matilah dia – so sad.

Metafora tersebut ternyata bisa kita bawa ke konteks engineering, business, bahkan ke kehidupan sehari-hari. Kuncinya adalah perubahan yg sangat gradual dan tidak disadari.

Mengacu pada konsep di atas, sebagai seorang agent of change, IE-ers akhirnya bisa menerapkan proses perbaikan yg gradual dalam sistemnya untuk mengurangi resistansi dari sistem. Kaizen atau inovasi tiada henti adalah filsafat jepang yg sangat cocok dengan teknik merebus katak. Dengan perubahan yg gradual, maka sistem anda akan memiliki kesempatan untuk menyesuaikan diri sehingga perubahan yg diinginkan bisa dilakukan.

Konsep yang sama juga bisa diterapkan untuk menggambarkan perubahan ke arah negatif. Dalam sistem, banyak perubahan negatif yg juga berlangsung sangat gradual. Terjadi degradasi yang sangat pelan dan pelan sehingga kita sebagai pelaku di dalam sistem itu tidak menyadari atau -setidaknya- merasakan namun mengacuhkan karena degradasinya dianggap tidak signifikan -dalam jangka pendek.

Korupsi, misalnya – sangat mungkin sifatnya gradual. Di awalnya, mungkin level korupsi si X sangat remeh temeh: merasa sedikit bersalah namun kok enak ya – segera hilang rasa itu; kemudian sedikit meningkat – kembali merasa bersalah sedikit namun segera biasa -dan seterusnya sampai akhirnya mencapai level tinggi, misal sampai kemudian diberi gelar “the six billion rupiah man”. Degradasi yg sangat pelan tersebutlah yg membuat kita menjadi tidak sensitif alias mati rasa alias NUMB.

Weh, Pak Boed – itu lagunya Linkin Park

Bukan, itu lagunya Dayadiarmon dari Djokja – cari aja di Youtube🙂

Trus kalo untuk kasus yg kedua [perubahan ke arah negatif] itu kira-kira gmana ya pencegahannya?

Nha itu pertanyaan yg susah. Nanti kita minta saja pembaca untuk memberikan komentarnya. Kalo dari saya sih kira-kira:

a. sebagai katak yg ada di dalam panci (sistem) kita mesti asah terus kemampuan menangkap sinyal – jadi mesti sensitif terhadap perubahan negatif. Begitu anda rasakan ada sinyal negatif – out … out. Jangan sampai terlambat – safe your life🙂

b. mungkin ada baiknya juga meminta masukan dari katak yg di luar panci. Istilah akademiknya kan triangulation. Minta perspektif dari orang lain yg tidak mengalaminya sehingga kita bisa mendapatkan pandangan yg lebih obyektif dan menyeluruh.

c. Kalau bisa sih dan solusi ini kayaknya yg paling mujarab- jangan mau masuk ke panci itu. Artinya jangan masuk ke wilayah abu-abu yg kemungkinan mengarah ke perubahan negatif.

Akhirnya, dongeng ini ditutup dengan peribahasa Jawa berikut ini:

Witing tresno jalaran saka kulino

atau terjemahan bahasa Indonesianya kira-kira adalah: Awal dari suka / cinta adalah kebiasaan.

Mungkin ada yg ingin mengelaborasi peribahasa tersebut? tentunya dari sudut pandang teknik merebus katak. Anda bebas mengambil perspektif: perubahan ke arah positif atau pun perubahan ke arah negatif.

Ditunggu komentarnya. Seperti biasa: boleh sepakat untuk tidak sepakat.

ilustrasi 1

14 Responses to “Teknik Merebus Katak”

  1. don Says:

    Wah katak bin kodok… contoh perubahan negatif nih pak:
    awalnya ngobrol biasa .. trus jadi sering jalan berdua … terus jalan sambil bisik-bisik sambil mepet-mepet …… terus gandeng-gandeng tangan … trus … nanti aku kena sensor pak boed…Perubahan positif …blum punya ide

  2. b oe d Says:

    # Don
    Contoh yg “insightful”🙂

    BTW ada pertanyaan nih buat si DON: kok bisa yakin kalau katak CoWo dan bapaknya namanya kodok? – lha itu pake ‘bin’ ??
    Canda … canda …

  3. dimasu Says:

    sama seperti engineer muda. awalnya cuma diminta “coba tolong buatkan summary ini”. besoknya “waah…bagus..makasih ya..”.10 menit kemudian “coba kamu bikinkan yang ini sekalian” (tertera 2 list mini project).. besoknya juga sama. nambah jadi 3 list. sampai akhirnya kerjaan numpuk puk puk… sabtu minggu masuk.. 1 tahun kemudian bahkan si engineer tidak ngeh kalau seharusnya dalam 1 minggu itu ada 2 hari libur.. hihi..

  4. Embuhh Says:

    wah klo gitu sama sprt di kampus saya, laporan2 kp yg tahun lama banyak yg salah baik dari segi penulisan maupun segi metode/ isi, lha angktn bawahnya ikut2an deh… Cuz dosennya sendiri g ada yg mau benerin sehh.. paling2 alasannya cuman laporan kp — gak penting kaliiii. Sampai sekarang tetep aj. Wlpn salah tetep lulus… lha kalo dah mindset nya seperti itu ya sulit diubah, makanya TA/skripsinya jd lama cuz dulunya metode yg dianggap bener ternyata salah.. huuhhh.
    wah malah jelek2in kampus sendiri…
    dah gitu dosennya sibuk2, g mikirin kemajuan mhs, “ngecolke” mhs, kopong dehhh….
    he he he beraninya cuman nulis diblog orang nihh… g berani ngomong langsung ma kampus cuz cinta damai g suka neko2, g suka demo, apalagi anarkis, cuman “grenengan”…..


  5. pernah denger versi yg mirip seperti ini

  6. b oe d Says:

    #Dimasu
    Kayaknya memang begitu🙂

    #Embuhh
    Iyup, contoh yg pas banget.
    System Quality drifting adalah salah satu contohnya – di system archetype kasus semacam ini biasa disebut Eroding Goals.
    kapan-kapan kita bahas😀

    #Dhimas
    Yup, as I mentioned:
    | Saya ambil cerita nya dari buku the Fifth Discipline-nya Pak Peter M. Senge.

  7. SAdip_Ta Says:

    saia setuju pak,,,,tapi gimana caranya ngasih tau ke org2 yang bebal,,,
    dalam artian dy g mw dengar kata2 org,,,,jadi dalam benaknya hanya ad pikiran dy sendiri,,,misalnya nih,,,,koruptor g mau ngaku sebelum ketahuan,,,,nah itu gmn??

  8. sumarni Says:

    REVOLUSI
    yah nyasar nih. sbnernya sy lg nyari penjelasan gimana sih para tokoh macem Che Guevara itu misalnya ngajak orang-orang utk revolusi. Kayak ngajak katak nyebur air panaskah?

  9. andy7364 Says:

    as quoted:
    “c. Kalau bisa sih dan solusi ini kayaknya yg paling mujarab- jangan mau masuk ke panci itu. Artinya jangan masuk ke wilayah abu-abu yg kemungkinan mengarah ke perubahan negatif.”

    jangan masuk ke panci? maksudnya segera keluar dari sistem yang gradually mengarah ke negatif..CMIIW

  10. Wagun Says:

    Analog merebus katak bagus sekali, Pak Boed. Semua harus sepakat untuk sepakat dengan esensinya.
    Mengenai konsep sepakat untuk tidak sepakat, dalam hal tertentu memang bisa. Tapi untuk hal yang secara objektif kebenarannya tunggal, sepakat untuk tidak sepakat itu tidak perlu disepakati. Kalau konsep Pak Boed seutuhnya ditolelir dan bisa diterapkan, maka kita harus menolelir katak koruptor yang mati kepanasan uang haram karena itu adalah hasil ketidaksepakatan dia dengan katak yang loncat ke luar panci panas itu. Iya kan Pak, kalau kita sepakat untuk tidak sepakat dalam hal apa pun, berarti kita setuju untuk membiarkan orang salah.

    • b oe d Says:

      Iya kan Pak, kalau kita sepakat untuk tidak sepakat dalam hal apa pun, berarti kita setuju untuk membiarkan orang salah.

      Good point🙂 Sepakat untuk tidak sepakat berbeda dengan menyetujui lho. Sepakat untuk tidak sepakat BISA berarti kita sudah menyuarakan pendapat kita, mencoba berargumentasi – namun tidak mempan.

      Dalam konteks berteman saja sebagai contoh; kita yakin bahwa yg dilakukan si A itu salah. Kita udah beberapa kali ‘mengingatkan’ dengan berbagai cara. Ternyata dia keukeuh dengan jalannya. That’s it – tugas kita sebagai teman kan hanya sampai di situ. Sepakat untuk tidak sepakat.

  11. rock1825 Says:

    Teknik merebus katak..ehm, di dunia pertanian jd ada. Misalnya kasus resistensi hama. Mula2, di lahan petani ada hama yang menyerang. Kemudian petani memberikan pestisida sesuai dosis anjuran. Tak lama kemudian hama dapat diatasi. Beberapa waktu kemudian hama yang sama kembali menyerang. Si petani lantas memberikan pestisida dengan dosis lebih tinggi dari sebelumnya, karena dia ingin urusan cepat selesai, hama mati. Begitu seterusnya, sampai pada suatu saat hama menjadi resisten terhadap pestisida dan malah menimbulkan kerugian yang besar. Selain merugikan tanaman dan petani (dlm hal ini segi ekonomi) ternyata pestisida jg dapat meninggalkan residu dalam tanah dan mampu merusak keseimbangan ekosistem. Ternyata dalam kasus ini petani lupa menerapkan sistem pertanian berkelanjutan, sistem pertanian yang berorientasi kepada lingkungan dan menempatkan penggunaan bahan2 kimia di urutan terakhir. Pengendalian hayati merupakan rekomendasi utama dalam sistem ini. Pertanian berkelanjutan memang tidak dapat memberikan hasil yang signifikan dalam waktu singkat, tapi penerapannya tetap memberikan dampak yang positif dalam jangka waktu lama. Peribahasanya Alon2 waton kelakon..hehe

  12. abinahasya Says:

    wah bagus banget pak tulisannya, boleh dong Copas untuk blog saya? terutama rebusan kataknya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: