Kirani dan Pilihan Rasional

July 11, 09

irrational[*cerita ini fiktif belaka]

.

Kirani, Aruni dan temennya Seruni sedang asyik berbincang di teras rumah. Sambil menyeruput kopi nescafe dan makan jagung rebus masakan istri, saya dengarkan perbincangan mereka.

..

[K]irani: eh, temen-temen, kalo aku pilih mobilan yang warna merah ini. Bagus deh. Lihat ini kan murah, dari kayu buatan tetangga. Jadinya ayah ndak usah keluar uang banyak-banyak. Keren kan?

Weh, hebat juga si Kirani. Dia merakyat banget yak. Dengerin lanjutannya ah …

[A]runi: yah, kak Ki aneh deh. Mosok mainan kayu gitu dibilang bagus. Ini nih aku pilih yang biru nih. Ini sudah terbukti awet lho. Agak mahal sih dulu pas beli, cuman kan sudah terbukti nih. Dah 5 bulan belum rusak. Bentuknya bagus kan. Ini yg paling keren.

Wee, si Aru berani beda sama kakaknya. Rame nih. Lanjut …

[S]eruni: We, temen-temen… apaan sih. Jelas mobilan yang kuning ini dong yang paling bagus. Jalannya paling ngebut nih. Biar bentuknya gak keren, ini paling jagoan.

[K]: gak lah. yang merah yang paling bagus. Aku pilih ini. Emangnya kita mau main di jalan tol? gak perlu ngebut-ngebut.

[S]: Yang biru jelas. T-o-p-b-g-t. Terbukti. Mainan kayu mah cepet rusak. Apalagi kalau dipake ngebut-ngebut.

[A]: Kuning yang bisa ngebut pilihanku. Yang merah mah kadang mogok, yang biru lelet banget jalannya.

Sedang asyiknya mereka bertiga ngobrol, lewatlah tetangga yang udah mahasiswa. Nyeletuklah sang mahasiswa:

[M]ahasiswa: adik-adik, kalian memang pemilih yang rasional.

[K]&[A]&[S]: ????

Weh, canggih juga adik mahasiswa tadi ya. Rasional, memilih dengan rasional. Apa pulak itu?

Buat [K]&[A]&[S], istilah itu tentu masih terlalu abstrak ya. Jadinya, lebih enak dikusi dengan si mahasiswa dan biarkan [K]&[A]&[S] bermain di dunianya yang ceria.


# Rasional dan Memilih Rasional

[B]oed: Wah asyik tuh tadi istilahnya, rasional dan memilih rasional. Jelasin dong.

[M]ahasiswa: ya pak Boed. Secara saya dulu ambil kuliah ‘teori keputusan’. Anak TI gitu loh. Gini lho pak Boed ceritanya:

Definisi rasionalitas bermacem-macem pak. Konsepnya bisa dibawa ke aras yg bermacam pula. Bisa dilihat pada aras filosofi, atau yang lebih konkret.

Namun secara longgar, rasionalitas bisa dikaitkan dengan memaksimalkan manfaat [utility], atau mengoptimalkan manfaat dalam kasus keputusan terkendala [constrained decision making].

Jadinya memilih secara rasional berarti melakukan pemilihan dengan tujuan memaksimalkan manfaat dari sudut pandang pemilihnya.

[B]: wah berarti orang rasional orang yg egois dong ya. Dia kan cuma memikirkan manfaat [utility] bagi dirinya.

[M]: Nggak selalu lho pak. Dalam aplikasi ekonomi syariah, misalnya, utility [manfaat] itu tidak hanya dikaitkan dengan manfaat untuk diri sendiri dan saat ini.

Ekonomi syariah mengasumsikan orang rasional akan mengambil keputusan yang mengoptimalkan manfaat bagi umat, di dunia dan akhirat. Itu hanya satu contoh kecil saja.

Bangunan konsep rasionalitas dibuat berdasar beberapa aksioma. Tapi kayaknya gak perlu dibahas di sini.

#Bounded rationality

[B]: ah gitu ya. keren-keren. Tapi apa ya memang bener manusia bisa rasional?

[M]: di atas kertas pak. hehehe. Banyak penelitian menujukkan bahwa manusia BERUSAHA untuk rasional, tapi karena keterbatasannya sebagai insan, dia tidak bisa fully rational.

Herbert Simon [nobel prize winner] menyebutnya: bounded rationality.

[B]: keterbatasan apaan?

[M]: seperti yang di lagu-lagu itu lho pak.

Aku ini manusia yang tak sempurna. Terimalah aku apa adanya. Jreng .. jreng .. Lupa liriknya … tidur lagi …

Eh, maksudnya: manusia punya keterbatasan dalam memilah informasi (relevan atau tidak), menyerap informasi yang relevan saja, mensintesis informasi dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan semua info.

Intinya tak ada manusia super yang seperti itu.

# Kirani dan teman-temannya: a case study

[B]: Wah trus kalo dihubungkan dengan obrolan Kirani dkk tuh apa ya?

[M]: Gini pak, Ki dkk itu ngobrolin apa yang disebut MCDM [multi criteria decision making].

Mereka ingin memilih mobilan, berdasar beberapa kriteria / preferensi pribadi. [K] lebih menitikberatkan ke ‘harga yang murah’ dan ‘pro-tetangga’; [A] lebih ke ‘sudah terbukti’ jadi resikonya rendah; [S] lebih memberi bobot ke ‘mobilan yang lebih cepat’.

Ketiganya punya preferensi yang berbeda sehingga mengambil keputusan yang berbeda.

[B]: jadi mereka rasional kah?

[M]: menurut saya -dalam kasus ini ya- KETIGAnya rasional Pak. Pilihan akhir yang beda-beda adalah konsekuensi preferensi yang berbeda. Mereka sudah berusaha memaksimalkan manfaat bagi dirinya dengan memilih pilihan pribadinya ~ berdasar bobot preferensi yang diyakininya. They’re rational -for this case-.

[B]: trus kalo yg gak rasional yang seperti apa?
[M]: contohnya ya: ‘pejah gesang milih mobil X’. Pokoke Y, pokoke Z. Karena Q dan R saya pikir lebih bagus, saya pilih S sajah.

[B] & [M]🙂

[M] Wah pak Boed,dari tadi saya terus yg ditanyain. Gantian saya beri kuis empat pertanyaan dalam 20 detik buat pak Boed:

Q. Di dunia bisnis, apakah kita harus selalu bersikap rasional?

A. Dalam kasus tertentu, business players kadang sengaja membuat reputasi bahwa dia irrational decision maker. Beberapa politikus juga sengaja dengan sadar berlaku demikian. Pengamat menyebutnya jurus dewa mabuk.

Ini bisa dikaitkan dengan game theory [kapan-kapan dibahas]. Tujuannya agar kompetitor tidak bisa memprediksi langkah kita.

Q. Terkait pemilu, apakah pak Boed pemilih rasional?
A. I think so. Saya pilih setelah menimbang beberapa kriteria / preferensi.

Q. Jadi mereka yg beda pendapat dengan pak Boed adalah pemilih non-rasional dong pak?

A. Not necessarily. Dua orang rasional bisa jadi punya dua pilihan yang berbeda. Kita bisa sepakat untuk tidak sepakat.

Q. Pertanyaan terakhir: kalau bapak tidak terpilih, apa yang akan dilakukan?

A. Saya jelas tidak dipilih siapa-siapa. Tapi suatu saat Insha Allah pulang kampung. Bali wae nang Djokja ~ kata dagadu.

Sila-sila beri komentar anda🙂

ilustrasi


23 Responses to “Kirani dan Pilihan Rasional”

  1. Rovicky Says:

    Quote – ” … orang rasional akan mengambil keputusan yang mengoptimalkan manfaat bagi umat, di dunia dan akhirat.” –

    Btw, Mas Boed, akhirat itu rasional ndak ? atau rasionalitasnya seperti apa ?

    • b oe d Says:

      Pak Dhe,
      Yg pernah saya baca, strictly speaking on teori ekonomi syariah, definisi ‘rasionalitas’ memasukkan unsur pay-off di akhirat.
      Artinya, salah satu aksioma-nya adalah: ‘orang beriman percaya akhirat’ dan ‘segala perbuatan di dunia ada implikasinya (pay-off) di akhirat’.
      Itu yg bisa saya tangkap dari penjelasan di buku.

      Mohon pencerahan dari para ahli eknomi syariah🙂

  2. albertobroneo Says:

    wuih kok berat gini kang boed.. gak mudeng aku..
    btw bisa gak rasional itu meminimkan resiko??

    • b oe d Says:

      #Mas Berto
      Meminimalkan resiko adalah salah satu rational choice.
      Di IE biasa disebut: MiniMax ~ minimize the possible maximum risk


  3. TA saya tentang sistem pendukung keputusan lho, pak. bantuin ya. macet nih😛 . udah ketuaan di kampus ga lulus-lulus

  4. nurrahman18 Says:

    wah kok ga pernah diupdate lg pak?


  5. udah selesai dari sing ya? gimana riset bid epc mu?

    • b oe d Says:

      belum pak Edi. Ini masih analisis data.
      Ada beberapa temuan yg menarik nih, ntar kalo draftnya udah selesai mohon waktu buat diskusi ya.
      Thanks🙂

  6. Aisyah Says:

    Nice posting pak…. Enak dan bermanfaat utk dibaca buat tambah2 ilmu ibu RT kyk saya yang lama ga baca bahan2 kuliah, krn bahasanya menyenangkan….

  7. kuyi Says:

    waduhh.hebat2..bisa pake mcdm buat kasus sederhana.mngkn ketiga orang tadi bisa pake software juga kali pak..expert choice buat ngedukung keputusannya.hahahhaah..

    • b oe d Says:

      hehe terima kasih mas Kuyi.
      Saya jadi ingat, MCDM dalam konteks perkuliahan, criterianya biasanya sudah ditentukan (given), sehingga AHP tinggal digunakan untuk pembobotannya.
      Di dunia nyata, tiap orang bebas menentukan kriteria plus pembobotannya, sehingga bisa jadi dua orang rasional berberda keputusan.

  8. Irfan Harson Says:

    Wah asyik sekali penyajiannya pak. Mirip seperti waktu kuliah dulu. Kalau da waktu senggang tolong ditambahin masalah game theorynya pak(masih penasaran kenapa Mr nash bisa dapat nobel)..he he he

    • b oe d Says:

      hehe, mudah-mudahan sempet ya. Tapi pengetahuan saya ttg Game theory cuman dikit banget.

      • Irfan Harson Says:

        Di tunggu pak. Dikit banget kalo dibagi2 akan jadi banyak banget pak, he he he.. Lagian kalo dikit mudah2an ringan pak.. he he he

  9. Reza Says:

    Sama seperti Ais pak…
    Sangat bermanfaat buat saya yg juga jrg baca buku2 kuliah…hehe

  10. Reza Says:

    mau komen lagi….
    mampir pagi-pagi…semangat

  11. adesanto Says:

    hello, met kenal, ada peluang utk menulis artikel di majalah Robotika, jika anda tertarik silahkan lsg email saya di
    adesanto_asman@robotekindo.net

  12. Pinandita Says:

    pak boed, ditunggu terus posting2an nya…

  13. pinandita Says:

    asal ga bounded rationality aja pak,,, informasi yang diperoleh harus lengkap, jelas dan transparan. jadi konsumen bisa menentukan pilihannya dgn ceria… seceria Kirani, Aruni dan Seruni…hehehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: