Engineer yang brilian itu gak bisa apa-apa

April 5, 08

Kita lihat cerita berikut. Cerita fiktif namun banyak ditemui di dunia kerja – terutama di perusahaan yang berbasis proyek.

Fikto adalah seorang engineer yg relatif baru di perusahaannya. Termasuk angkatan muda – fresh graduate. Fikto diterima di perusahaan EPC ini gara-gara resumenya yang impresif. Akademik oke, pengalaman organisasi oke, bahasa Inggris oke, saat wawancara dengan user canggih, presentasi dahsyat dll ~ top dah. SDM menerimanya tanpa ragu dan memproyeksikan Fikto sebagai salah satu future leader.

Setelah bekerja sekian bulan, prediksi user dan SDM tak salah. Fikto benar-benar mulai keliatan keunggulannya. Kerjanya beres semua – dan yang lebih penting adalah ‘can-do attitudenya’. Well, dia kerja di EPC yg memang perlu attitude seperti itu. Setahun, dua tahun bekerja – bosnya mulai ngeliat si Fikto mulai kendor. Mulai sering banyak ngeluh, due date tugas-tugas meleset, banyak kekeliruan hitung & desain yg berujung rework, gak datang di meeting-meeting.

Apa yg terjadi dengan engineer muda nan hebat yg dulu? Kok (dulu) segitu brillian tapi keliatan sekarang kok gak bisa apa-apa? Salah rekrut? salah assesment or what?

Sounds familiar? Mungkin ini sebabnya.

Bisa jadi lho semua itu bukan kesalahan pribadi Si Fikto. Sebenarnya dia tetap hebat. Kita coba lihat salah satu kemungkinan penyebabnya dari pendekatan sistem.

Salah satu perilaku generik sistem [system archetype] yg sering disebut-sebut oleh systems thinker adalah tragedy of the common. Kasus Fikto di atas mungkin bisa dijelaskan dengan system archetype yg ini.

Fikto adalah si Common-nya.
Jadi dalam hal ini kita bisa bilang, si Fikto yg common sedang mengalami tragedi. Tragedi apaan sih?

kumon.jpg

Lha Pak Boed, itu bukan common, tapi Kumon gmana to? aya aya wae !!

Waduh iya, iya, ntar dikira iklan lagi.
‘Common’ adalah aset / sumber daya perusahaan yg readily available dan accessible. Fikto dalam kasus di atas dikatakan common karena dia sebagai engineer (bagian dari resources) termasuk ‘laku’.

Kita ingat bahwa Fikto bekerja di perusahaan EPC yg biasanya menganut matrix organization. Salah satu karakter dari perusahaan yg menerapkan matrix organization adalah tingginya kemungkinan seorang karyawan untuk harus bekerja multi tasking -multi project. Dengan kata lain, karyawan (apalagi engineer) harus selalu ‘available’ untuk mengerjakan tugas di banyak proyek dalam waktu yg simultan.

Demikian juga dengan Fikto. Di awal saat baru bergabung dengan perusahaan, reputasinya sangat bagus. Semua kerjaan dikerjakan dengan sangat baik. Tidak pernah nolak perintah. Akibatnya dia jadi ‘laku’ dan terkenal di kalangan project manager (PM). Semua PM ingin merekruitnya.

Sayangnya, Fikto sebagai resources mempunyai keterbatasan kapasitas. Meski kapabilitasnya tinggi, waktu untuk Fikto dalam sehari tetep 24 jam. Dia bisa capek, bosen, stress, dll – Manusia biasa. Sayangnya, perusahaan tidak mau tahu (entah sadar atau tidak) ~ perlakuannya terhadap Fikto dalam jangka panjang akan berpengaruh buruk. Project Manager (PM) proyek A merasa berhak untuk memakai Fikto dalam proyeknya dan sibuk dengan target proyeknya sendiri tanpa menyadari kepentingan proyek B. Proyek B, C, D dst demikian juga. Masing-masing PM bekerja dalam silo mengabaikan tataran SISTEM perusahaan ~ lebih-lebih kondisi Fikto.

So, dalam jangka panjang, apa yg terjadi dengan Fikto? Dia akan menjadi ‘engineer yg brilian itu gak bisa apa-apa’. Overload, over burden, exhausted, demotivated.

dilbertprojectstatus.jpg

Akibatnya kerjaan Fikto makin lama akan makin jelek, banyak rework (karena buru-buru), schedule slip, mangkir rapat (karena sibuk kerjain yg lain). Apa yg kemudian akan dilakukan oleh PM proyek A? Tentunya push terus Fikto. Proyek B? push Fikto juga. Mendapat pressure dari multi-bosses akan membuat Fikto makin demotivated, makin banyak salah, makin mendapat pressure lagi dst dst ~ Fikto masuk dalam lingkaran setan — decreasingly poor performance. Dalam kasus yg ekstrim, mungkin inilah akhir dari karier engineer brilian itu. So sad!!

Sounds familiar? Pernah mengalami meski dalam derajat yg berbeda? Punya pendapat solusinya ~ silahkan share di sini.πŸ™‚

Wrapping up:

Pembahasan di atas adalah contoh bagaimana sebuah permasalahan coba ditelaah dengan pendekatan systems thinking. Sila lihat di sini tentang systems thinking. Ada beberapa karakteristik yg bisa diamati:
(a) perilaku sistem kadang terlihat counter-intuitive –> “engineer yg brillian itu gak bisa apa-apa”
(b) lihat perilaku dinamik sistem – jangan hanya dilihat snapshot –> cause and effect may be distant in time and space
(c) elemen sistem kait mengait; tidak berdiri sendiri –> keputusan PM A mempengaruhi kinerja Fikto, mempengaruhi proyek B, mempengaruhi kinerja perusahaan secara umum dst
(d) solusi / leverage biasanya bisa ditemukan dengan memahami systems structure.

Link terkait:

kerja multitasking oleh pak Hendra

Say no to your Boss oleh Pak Sjafri

UPDATED:
1. Judul di atas agak provokatif ya. Tujuan sebenarnya adalah untuk menunjukkan salah satu karakteristik dari sistem yg dinamis: counter-intuitive
2. Kasus di atas tidak hanya berlaku untuk engineer muda di project-based organization. Kasus serupa bisa terjadi di sistem lain, misal di kampus. Common-nya: dosen mudaπŸ™‚
Bisa juga terjadi pada karyawan yg tidak junior lagi namun berkarakteristik sebagai common.Misalnya: karyawan di bagian MIS / IT, departemen maintenance, OB .

3. Berikut saya ambilkan Causal Loop Diagram untuk kasus ini. Saya ambil dari buku Pak Braun.
Kasusnya, si common, yakni karyawan bagian IT yg sedang mengerjakan dua kerjaan bersamaan: membantu bos-nya yg admin dan mengerjakan sistem IT di bagian medicine. Enjoy!

Tragedy of the Common - dari Pak Braun

updated 27/08/08

berita hasil survey ini sangat relevan dengan diskusi kitaπŸ™‚

.

.

.

20 Responses to “Engineer yang brilian itu gak bisa apa-apa”

  1. dadank Says:

    Jadi ingat cerita si IE’ers Jenius dari almamater pak boed.

    Hebat bener!!!!

  2. b oe d Says:

    # Dadank
    Hehe, tapi kayaknya beda yaπŸ˜€

  3. twejo Says:

    Saya sudah baca link dari dadang. Ya ampun, itu orang bikin ngiler. Enak y jadi orang jenius…
    Tapi iya, ceritanya beda..
    Eh, orang2 ITB tu emang sekeren itu ya pak?

  4. yusuf nd Says:

    Sungguh fikto adalah figur yang seharusnya bersyukur. Diberkahi kecerdasan dan skill yang hebat, dipercaya orang lain dan memiliki reputasi bagus.

    Salah satu yang bisa dilakukan fikto adalah pendelegasian wewenang. Dengan banyaknya Tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya,namun dengan keterbatasan kapabilitas manusiawi, seharusnya fikto perlu untuk ditopang/disupport. Delegasi bisa berasal dari common perusahaan (aduh kasihan sekali kalo manusia dianggap aset?) atau dapat jg outsourcing.πŸ™‚

  5. boed Says:

    #Tejo
    Lebih enak jadi diri sendiri kok. Tiap orang ada sisi positif / negatifnya.
    Ada kisah nyata: seorang jenius,umur belasan tahun dah bisa masuk PT bergengsi di Inggris (Oxford??) – tapi kemudian dia DO soalnya stress. Sekarang umur dia 20++; jadi apa sekarang? PSK!

    di ITB ya macem2, seperti di UGM ataupun di PT yg lain.

    # Yusuf
    Delegasi bisa jadi salah satu solusi. Cuman engineer muda kan biasanya belum bisa mendelegasikan kerjanya. Solusi lainnya ada di sistem-nya. BTW, kejadian seperti di atas sangat sering kejadian lho.

  6. purbiyanto Says:

    Dari contoh kasus si Fikto, kayanya harus ada sistem ttg resource management. Shgga ketauan seorang pegawai berapa kapasitas kerjanya, terpakai di project mana, dan berapa alokasi waktu keterlibatam di tiap projectnya. Tapi kalaupun ada sistem belum tentu penerapannya bisa gampang.

  7. dimasu Says:

    waduh. saya juga engineer muda. kalau begitu jangan bekerja terlalu mencolok dulu ya biar gak dilirik banyak PM. hihi…

    jika kasusnya seperti itu, kira2 apa yang harus dilakukan engineer muda, pak? ada nasihat?

  8. b oe d Says:

    # Pak Pur,
    betul sekali pak. Memang untuk kasus di atas, leverage ada di level sistem. Sistem SDM nya lah yg harus diperbaiki. Untuk perusahaan EPC, kasus seperti ini sering terjadi – bahkan kadang sampai kronis. EPC yg berbasis project biasanya menerapkan multi tasking – seorang engineer bisa kerja di beberapa project secara simultan karena struktur organisasi matriks.

    Satu project dengan project lain kadang sulit berkoordinasi karena semua merasa ‘my project is the first priority yours is second’. Akhirnya si ‘common’ lah yg menjadi korban.

    Salah satu yg bisa digunakan untuk tracking load dari tiap karyawan adalah daily working sheet ~ laporan harian apa yg sedang dikerjakan hari itu dan rencana beberapa hari ke depan. Sayangnya, working sheet kadang hanya bersifat formalitas. Bahkan, saat project sedang di puncaknya, karyawan tak akan sempat mengisi.

    # Dimasu
    Hehe, jangan. Ntar kalo kinerja gak baik kena lay-off. Satu-satunya jalan ya bicara terus terang ke atasan kalo sudah overload. Tapi di prakteknya juga gak mudah. That’s life. Ada yg punya ide lebih baik??

  9. zaenal Says:

    Assalamuallaikum p boed..
    sebagai salah satu murid p boed yang akan menjadi seorang engineering muda jadi perlt waspada dalam menghadapi dunia kerja..
    tapi bila dipikir2 bukankah kejadian pada fiko sudah dtanamkan sejak kuliah ato tingkat2 pendidikan sblmny..
    pernah terpikirkah saat2 menjadi mahasiswa bukankan sering ada pemberian tugas oleh seorang dosen tanpa memandang keadaan sang mahasiswa(bkn maksud menyindir dosen)
    saat dosen memberi tugas apakah terpikir mahasiswa mempunyai tugas lain yg harus dikumpulkan lebih dulu(tdk smua dosen seperti ini,tp banyak dosen seperti ini)
    masih mending tugas individu,klo tugas kelompok..
    bnyk aspek lain yg dipertimbangkan waktu kerjalah,pembagian tugaslah dsb..
    bayangkan klo dalam 1 semester ad 2 klompok,mending 2 klompok,dalam 1 semester rata2 20 sks ya skitar 6 mata kuliahan..
    bila smuany ada tugas kelompok(hal ini mungkin terjadi)..
    ya pinter2 mahasiswany..
    nah yg jadi pertanyaan knapa fiko?
    ato ada apa dengan fiko?
    kmarin kbetulan mengikuti engineer ethic..
    ada yg menarik,yaitu seleksi penerimaan pekerja dilakukan untuk memilih pekerja yang sesuai..
    disini kata sesuai bukan berarti paling pintar,paling hebat..
    tp jujur bila sbuah perusahaan dtawarkan pekerja yg ‘wah’ siapa yg tdk tertarik(mirip mencari jodoh)..
    dan bagi pelamar jujur saja pasti akan ‘menjual dirinya’ semenarik mungkin(mirip cowo deketin cewe)..
    yah..apa yg terjadi bila cewe itu menikahi cowo pelamar??silahkan jawab sendiri karena tidak ada jawaban yg pasti


  10. […] Engineer yang brilian itu gak bisa apa-apa […]


  11. […] Dosen-dosen yang digolongkan favorit oleh mahasiswa biasanya jadi overloaded. Karena itu biasanya jurusan akan menempuh kebijakan membagi beban membimbing. Jika hal ini tidak dilakukan, maka akan terjadi apa yg di systems thinking disebut: tragedy of the common [kapan-kapan dibahas dibahas di sini]. […]

  12. elindasari Says:

    Weleh..weleh…kasihan betul si Fikto ya Mas Boed, tapi kalau saya jadi si Fikto mungkin saya akan bergabung dengan perusahaan lain yang lebih ok.

    Lagipula, bukankah si Fikto punya kemampuan lebih, saya rasa tidak sulit untuk mendapatkan pekerjaan lain yang bisa mendukung dia dalam berbagai hal.

    Yang penting tetap semangat dan tidak cepat putus asa, hehehe πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

    Ok, sekian komentarnya !
    Best Regard,
    Bintang
    http://elindasari.wordpress.com

  13. pinkparis Says:

    kejadian Fikto adalah kejadian yang sangat common dalam project management. mungkin salah satu solusinya adalah musti ada koordinasi yang bagus antara PM, sehingga para PM bisa mengecheck load kerjaan anggota team nya dan tidak saling memberikan tekanan dan prioritas. musti ada semacam load balancing untuk setiap engineer yang ada sehingga pekerjaan akan diberikan secara merata dan tidak sampai ada yang overload atau idle. metode first come, first serve mungkin juga bisa digunakan. project pertama yang engineer terima adalah project yang dia kerjakan terlebih dahulu, dan project-project lain yang masuk setelahnya musti antri. well, memang sih idealnya begitu, tapi fakta dilapangan selalu saja ada excuse …

  14. Sur Says:

    Pak Boed,

    Pernah dengar PRINCE2?
    http://pkab.wordpress.com/2008/06/26/peta-pikiran-prince2/

    mudahkah mempelajarinya dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain? saya tertarik untuk mulai mempelajarinya dan memanfaatkan kemampuan peta konsep dalam mengimplementasikan PRINCE2.

    yang versi komersilnya
    http://pkab.wordpress.com/2008/06/26/proyek-prince2/
    harganya ratusan poundsterling.

    Ada “Managing Successful Projects with PRINCE2β€³ handbook, saya rencana untuk membeli dan mempelarinya secara didaktik. tertarik kerjasama saling update (saya mengajarkan peta konsep dan pak boed mengajarkan saya project management)?

    terima kasih banyak sebelumnya.

    salam,
    sur

  15. afandi Says:

    Disinilah seharusnya peranan HRD Departement sbg pengelola karyawan agar grafik kerja karyawan bagus…

  16. ogah Says:

    Akhirnya si Fikto married. Berhubung doi gaul, banyak PM yang kasi doku. Kinerjanya naik lagi soalnya ada kebutuhan hidup yang baru. Ndak lama kemudian dia punya anak, kembar lagi. rumah tangganya mulai goncang, kerjanya makin nggak karuan, akhirnya dia dipecat karena menyebabkan kerugian milyaran. Ahhh, Fikto fikto, mending ganti kerja dah! or usaha sendiri…

  17. nurul indarti Says:

    Mas Boed, thanks fwd-nya di blog saya ya. Baru ‘sempat’ njenguk. Hanya baca sekilas. Duh, mata udah semakin sipitttt. hehe. Komentarnya kapan2 aja ya. (alasan mode: on). hehe. Plus minus organisasi berbasis matriks or project, intinya ditulisan Njenengan dan overload yang pernah saya tulis di blog. Take care Mas, jangan sampe overload.πŸ˜‰

  18. ander Says:

    kalau memang sehebat itu kenapa harus jadi pegawai? semoga Fikto diberi petunjuk utk keluar dari perusahaan dan memulai usahanya sendiri..

    • b oe d Says:

      mungkin memang begitu idealnya.
      Cuman, di artikel itu saya sedang membicarakan hal lain. I.e. contoh tentang analisis dengan pendekatan systems thinking.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: