Palu dan Teknik Industri

November 29, 07

Sebuah buku mengutip dari sumber anonim:

If the only tool that you have in your toolbox is a hammer, every problem looks like a nail

Kira-kira artinye adalah:

Jika kamu cuman punya palu, semua masalah keliatan kayak paku deh

Wah menarik nih. Trus apa hubungannya Teknik Industri (IE) ama palu ya? Trus apa hubungannya palu ama tugas akhir trus juga ama profesi IE-ers? Kita pecahkan teka-teki itu di sini.

Jargon di atas sepertinya mengena banget buat banyak kasus IE-ers. Coba bayangin ini:

Pak boed saya lagi mau TA ini, kira-kira apa ya yang bisa saya simulasikan? Atau,

Pak boed, kalo saya mau pake OEE buat TA di mana ya studi kasusnya?

Kejadian seperti ini sering terjadi. Kasus ini mungkin tidak terlalu memberikan impak jika skalanya “hanya” untuk tugas akhir. Tapi coba bayangkan kalau:

Anda adalah seorang kepala divisi scientific management di perusahaan besar, diminta untuk memberikan pendapat ilmiahnya mengenai sebuah keputusan investasi. Karena kebetulan TA anda duluuu pake MonteCarlo, maka anda memaksakan menggunakan MonteCarlo padahal sifat sistemnya dinamis.

contoh lain:

Anda komandan SAR di Djokja. Sesaat setelah gempa Djokja terjadi, di rapat koordinasi BASARNAS anda ditanya oleh atasan Anda, Bupati Bantul: “Dik, menurut anda berapa ini truk yang harus dikerahkan dari Jakarta untuk mengangkut bantuan buat besuk pagi”. Pikiran anda langsung: “voila, transportation problem“. Jawab anda: “anu pak, saya perlu waktu dua minggu untuk analisisnya. Soalnya perlu nyari / ambil historical data, trus dimodelkan trus disimulasikan trus divalidasi trus …”. Pak Bupati nyambung: “trus besuk kamu gak usah masuk aja. Saya ambil alih langsung komando”

Joko sembung bawa golok gitu loh. Semua masalah keliatan seperti paku karena yg anda punya cuman palu.

Kid tools

source: dari sini

# IE dan simulasi dan palu

Banyak mahasiswa IE dan IE-ers kadang salah mengartikan bahwa IE = OR = Linear programming saja. Atau ada juga yang mengidentikkan IE = simulasi. Seperti yg sebelumnya dibahas, Optimization dan simulasi memang menjadi salah satu kompetensi IE, tapi itu tidak berarti bahwa semua masalah baik di dunia akademik (i.e. skripsi) maupun di industri bisa dan cocok dipecahkan dengan OR / simulasi.

Di samping keunggulannya, OR perlu digunakan secara kritis karena, di antara alasannya:

a. pendekatannya hard, kadang dianggap terlalu kuantitatif. Untuk sebagian orang, pendekatan kuantitatif dianggap belum memadai. Terutama apabila kita bicara socio-technical system yang di dalamnya terdapat manusia. Manusia itu sulit dikuantifikasi, dikelompokkan, dan diwakili dengan angka.

# Simulasi:

Berikut adalah beberapa karakteristik dari simulasi adalah:

a. Mudah – sangat intuitif, tidak perlu mempelajari ilmu probability tingkat tinggi

b. Mahal butuh investasi – jangan pake bajakan!!

c) Sifatnya kira-kira (approximation), tidak bisa digeneralisir hasilnya.

c. Bertujuan untuk menjelaskan, memprediksi, mempelajari sistem

[jika tools yang anda gunakan bisa memberikan keputusan, prescription, tools tersebut bukan lagi (murni) tools simulasi].

# Pilih yang paling pas

Poin utamanya adalah bahwa tiap tools yg ada di IE punya kekhasan, keunggulan, kekurangan masing-masing. Karenanya, methods and tools follow problems. Formulasikan problem terlebih dahulu, baru tentukan toolsnya. Jika mungkin gunakan tools yang paling sederhana. Selalu kita ingat akan trade-off. Jika anda ingin hasil yang lebih akurat (biasanya) akan membutuhkan sumber daya yang lebih besar. Jika sistem anda bisa didekati dengan pendekatan linier, tidak usahlah repot-repot menggunakan pendekatan non-linear. Jangan bunuh nyamuk dengan meriam. Kecuali nyamuk raksasa🙂 . Ngomong-ngomong gmana coba caranya membunuh nyamuk ukuran normal dengan meriam?

Dan bisa jadi, satu masalah bisa didekati dengan berbagai cara. Seperti pada kuisz yang diikuti banyak IE-ers ini. Dalam banyak kasus di industri, yang kita cari adalah acceptable solution bukan the best solution.

Khusus untuk simulasi, perlu difahami bahwa tidak semua masalah perlu dan bisa disimulasikan. Tampilan yang bagus dengan animasi 3D dan sejenisnya bisa membantu kita untuk verifikasi dan eye catcher namun hasil akhir dari simulasi tergantung pada modeler-nya. Simulasi bukanlah pengganti decision maker, namun alat yang membantu decision maker dalam menganalisis sistem yang kompleks. Simulasi tidak bisa dijadikan tameng atau pun tumpuan kesalahan saat keputusan yang diambil ternyata salah.

“Jangan pecat saya dong, yang salah kan simulasinya. Pecat aja Automode sama simul8 nya”.

Jelas gak mungkin lah, karena keputusan akhir tetap pada manusia.

# Asah kapak

Tools dan methods di bidang IE berkembang sangat-sangat pesat. Coba misal dilihat di OR: LP, NLP, IP, GP, CP, kemudian teknik-teknik heuristics dst. Selalu lahir tools baru dengan karakteristik berbeda. Karenanya, agar tidak jadi dinosaurus, IE-ers harus selalu mengasah kapak ~ belajar untuk terus belajar.

IE-ers semestinya punya palu, meriam, gergaji, panah, pulpen, kalkulator, telepun, telegram, blog [halah]; tahu kapan menggunakannya dan tentu juga bisa menggunakannya. Agar tidak seperti ini (source dari sini):

tools

(c) boed

updated 06/08/08

Berdasar pengamatan saya yg terbatas, tidak hanya IE-ers yg bisa terserang sindrom palu ini.🙂

Orang-orang pintar selevel dosen juga cukup banyak yg seperti ini. Setiap permasalahan dilihat secara short-sighted, single perspective: semua dilihat dari sudut keilmuan yg dikuasainya meski kadang tidak relevan🙂 Mudah-mudahan dosen-dosen semakin meninggalkan pendekatan ‘silo of expertise’ ini dan semakin berkurang kupernya.

Sorry, no offense🙂

5 Responses to “Palu dan Teknik Industri”


  1. ck..ck.. dah pakar teknik industri sampeyan.
    lupa nih dulu anak mesin gak bersahabat dengan anak TI karena dianggap ‘sastra mesin’? he he he

    gudlak
    hamdi

  2. b oe d Says:

    # Eddy:
    Halo Kang, lama tak bersua. Udah di malay sekarang? Hati-hati lho🙂

    Anak TI = sastra mesin, wadauw lha kagak dah. Gut lak juga. Kalo pas dines ke SIN jgn lupa kontak2.

  3. igun Says:

    He..he..
    Bener Pak.

    Masalahnya di kuliah teknik industri sendiri (seperti yang pernah saya alami), mata kuliah yang menantang mahasiswa untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan membebaskan tools sangat jarang.

    Selain itu, dalam kasus ini untuk skripsi atau Tugas Akhir, memilih permasalahan bagi mahasiswa adalah suatu masalah (susah soalnya. :D). Pertama, masalah itu sangat banyak jumlahnya. Kedua, bagi seseorang suatu hal bisa menjadi masalah bagi orang lain itu bukan masalah. Ketiga, kadang ketika menemukan suatu masalah, tools yang tepat sangat sederhana sehingga tidak layak untuk jadi Tugas Akhir/Skripsi. Jadinya emang lebih mudah menentukan tools terlebih dahulu.😀

    Kalo enggak, bisa jadi sebuah Tugas Akhir/Skripsi penyelesainnya menggunakan tools flipping coin.😀 (karena masalahnya butuh diselesaikan dengan cepat dan tidak membutuhkan perhitungan rumit).


  4. […] adalah mahasiswa tingkat tiga, berbasis proyek, problem-driven, bebas memilih tools yg sesuai dengan problem-nya, dibiayai jurusan, kerja kelompok, sedikit kuliah di kelas, konsultasi dengan dosen, proposal + […]

  5. ajoi Says:

    Pak, saya lagi garap skripsi tpi bingung lum ada judul, jurusan teknik industri, mohon bantuanya dong…?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: